Kamis, 14 April 2016



TUGAS MAKALAH SOSIOLOGI
“ BENTUK-BENTUK DAN SUSUNAN KEMASYARAKATAN SUKU MELAYU KAPUAS HULU”
Dosen: Sahata Simamora, SH, MH
Nama: Wahyu Israniar
NIM: A1011151026
KELAS: A


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015


Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, yang telah memberikan anugrah, kesempatan dan pemikiran kepada penulis untuk dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini membahas tentang BENTUK-BENTUK DAN SUSUNANAN KEMASYARAKATAN SUKU MELAYU KAPUAS HULU. Penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas Sosiologi dalam pembahasan BENTUK-BENTUK DAN SUSUNANAN KEMASYARAKATAN SUKU MELAYU KAPUAS HULU yang guna memperdalam ilmu dan untuk memperoleh nilai tugas pada mata kuliah ini.
Penulisan makalah ini penulis susun dengan maksimal dengan  mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat mempelancar pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesemurnaan makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa khususnya dan masyarakat pada umumnya. 


Pontianak, November 2015


Penulis


DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………......……………………….i Daftar Isi……………………………………………………..…...…………………..ii BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...……………………….…..........……………………………......1 1.2 Rumusan Masalah………..…...….……...……….…….………………..….…...2
1.3 Tujuan………..…..………………………………...……………………..……....2 1.4 Manfaat………………...……………………………………..…………..………3
BAB II Kerangka Teori
A. Pengertian Kebudayaan……………………...…...…….………………….…...…4 a. Unsur-unsur Budaya…………… ………...….. …………………..............………5 b. Ciri-ciri Budaya……………...…………………...….………………….…………8
B. Suku Melayu……...………………….….………………………....…………….10
C. Sejarah Singkat Asal-Usul Melayu Datang Ke Indonesia….…….…...……...…11
a. Melayu Tua ( Proto Melayu)………………………...…………..…..…..………..12 b. Melayu Muda (Deutro Melayu)…...………………….……..……..……..………13
D. Sejarah Singkat Asal-Usul Melayu Datang Ke Kalimantan Barat………….….15
BAB III PEMBAHASAN
A. Bentuk-bentuk dan Susunan Kebudayaan Suku Melayu Kapuas Hulu.….……...18 a. Melayu Kapuas Hulu…...…………………………………..…..…………...…18
b. Sejarah Islam Masuk Ke Kapuas Hulu……………………………...…………...19
c. Geografi dan Demografi Suku Melayu Kapuas Hulu…..…..….…………...…23
d. Bentuk Budaya Kapuas Hulu.……..………………...……...…………………….24 i. Tepung Tawar……………………………………………………………………24 ii.Tumbang Apam…………………………..………………………………….….27 iii. Buang-buang…...……………………………………………………….….….28 iv.Upacara Adat Kematian………….………………………..…………….…....…28 e. Bahasa Melayu Kapuas Hulu………...…...….……...………….....…...….…….29
f. Kesenian...…….………………………...………………………........…………30  g. Pernikahan…………………….…………........…………...…...……….……...31  h. Panggilan-panggilan Umum dalam Kekerabatan Orang Melayu Kapuas Hulu....35
BAB IV PENUTUP Kesimpulan…………………………………………………………………………37 Saran………………………………………………………………………………..38DAFTAR PUSTAKA………...……….…………………………………………………....39  









BAB I
PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang
Kebudayaan merupakan suatu kekayaan yang sangat bernilai, karena selain meruapakan ciri khas dari suatu daerah juga menjadi lambang dari kepribadian suatu bangsa atau daerah.
Disetiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda pula oleh karena itu manusia dan kebudayaan adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan karena dimana kita tinggal disitu pula terdapat kebudayaan. Indonesia memiliki jenis kebudayaan yang beragam. Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, karsa manusia yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia. Macam – macam kebudayaan, dari mulai kebudayaan sosial, politik, organisasi, dan budaya masyarakat. Termasuk dalam hal in adalah masyarakat Melayu.
Melayu adalah rumpun bangsa yang besar yang telah lama mendiami bumi ini, bangsa Melayu berasal dari Bani Jawi (Arab), yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s dari istrinya yang bernama Qanturah/Qatura/keturah. Bani Jawi ini telah berhijrah/berpindah dari tanah Kanaan ke Timur melalui jalan darat dan laut. Hijrah yang melalui jalan laut di ketuai oleh Raja Mus dan mendarat di Palembang. Sedangkan jalan darat perpindahan melalui Tibet, bahkan  Bangsa Melayu pernah menduduki Tibet dan telah menamakan gunung yang tertinggi di dunia dengan nama Himalaya yang dalam bahasa sansakerta berarti Gunung Melayu. Tanah Melayu dulu oleh orang Arab disebut Tanah Jawi, keturunan rumpun Melayu tersebar luas di dunia ini dan dibagi lagi kedalam beberapa suku dan ras. Kerajaan Melayu yang paling terkenal dalam sejarah dunia sebelum kedatangan Islam adalah kerajaan Sriwijaya yang mencapai masa keemasan apada abad ke-tujuh da ke-delapan Masehi dan runtuh pada tahun 1377 Masehi. Di masa itu Agama Budha berkembang ke arah timur kerajaan tersebut. Budi Dharma seorang Melayu, telah mengembara ke Cina dan Jepang serta telah mengajarkan berbagai ilmu diantaranya adalah ilmu bela diri.
Beliau telah membuka kuil Shorinji di Jepang (ada yang berpendapat bahwa Sorinji berasal dari nama Serinding yaitu nama salah satu Silat Melayu yang terkenal di Sriwijaya/Palembang).
Masyarakat melayu menjunjung tinggi asas kekeluargaan, terlihat dari segi bermasyarakat yang damai, suka bergotong royong. Masyarakat Melayu (Kapuas Hulu) lebih banyak bermukim dipesisiran sungai kapuas, sehingga masyarakat Melayu Kapuas Hulu banyak yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Masyarakat Suku Melayu Kapuas Hulu masih memegang  keyakinan pada kepercayaan animisme dan ajaran-ajaran nenek moyang hal ini karena pengaruh dari suku Dayak yang ada di Kapuas Hulu, akan tetapi rata-rata suku melayu di Kapuas Hulu menganut agama islam.
1.2         Rumusan Masalah 
Agar memperjelas tentang bentuk-bentuk dan susunan suku melayu Kapuas hulu, maka merumuskan masalah sebagai berikut :
·      Apa itu suku melayu  ?
·      Dari mana  Asal-usul Suku Melayu ?
·      Stratifikasi sosial seperti apa yang ada di dalam kebudayaan Melayu Kapuas Hulu?
·      Apa kepercayaan yang dianut mereka ?
·      Bagaimana kebudayaan masyarakat melayu Kapuas Hulu ?
·      Apa mata pecaharian masyarakat Melayu di Kapuas Hulu ?

1.3         Tujuan
  Tujuan penulisan makalah ini adalah :
·           Untuk menuntaskan tugas mata kuliah Sosiologi yang menjadi salah satu syarat kelulusan dalam proses pembelajaran. 
·           Menjaga kemurnian suku melayu
·           Mengetahui bagaimana suku melayu dikapuas hulu sebenarnya
·           Memberi pengetahuan kepada pembaca mengenai pengertian melayu agar tidak mengetahui arti melayu itu hanya sebatas suku atau ras saja.
·           Memberi pengetahuan mengenai Asal- Usul Suku Melayu.
·           Sebagai pembelajaran kami tentang kebudayaan Indonesia khususnya Budaya Melayu.
·           Dapat memahami bagaimana sistem kebudayaan Melayu.

1.4         Manfaat
Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah :
Agar kita bisa mengetahui bagaimana suku melayu di Kapuas Hulu, serta agar kita bisa menjaga budaya Melayu dengan baik agar tidak diambil cap milik oleh negara asing.












BAB II
KERANGKA TEORI
A.          Pengertian Kebudayaaan
Istilah kebudayaan merupakan terjemahan dari istilah culture dalam bahasa inggris. Kata culture berasal dari bahasa latin colore yang berarti mengolah, mengerjakan, menunjuk pada pengolahan tanah, perawatan, dan pengembangkan tanaman dan tanah inilah yang selanjutnya dipahami sebagai culture. Sementara itu, kata budaya berasal dari bahasa sanskerta, buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi. Kata buddhi berarti budi dan akal. Kamus besar bahasa indonesia mengartikan kebudayaan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Kebudayaan  merupakan salah satu buah pikiran baik berupa benda maupun tindakan yang mana senantiasa perlu kita lestarikan guna menjaga sejarah yang telah ada.
Di bawah ini akan dikutip beberapa pendapat para ahli tetang definisi kebudayaan sebagai berikut:
1.    E.B. Tylor seperti dikutip oleh Soerjono Soekanto (1989) mendefinisikan kebudayaan sebagai segala hal yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kebiasaan, serta kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2.    Koentjaraningrat (1985) kebudayaan adalah keseluruhan ide-ide, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar
3.    Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964)  menurut mereka kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta manusia. Bila disimak lebih seksama, definisi Selo Soemardjan dan Soelaeman lebih menekankan pada aspek hasil materia dari kebudayaan.
4.     Koentjaraningrat menekankan dua aspek kebudayaan yaitu abstrak (nonmaterial) dan konkret (material). Pada definisi Koentjaraningrat, tampak bahwa kebudayaan merupakan suatu proses hubungan manusia dengan alam dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. Dalam proses tersebut manusia berusaha mengatasi permasalahan dan tantangan yang ada di hadapannya.
Pengertian Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Budaya merupakan simbol peradaban. Apabila sebuah budaya luntur dan tidak lagi dipedulikan oleh sebuah bangsa, maka peradaban bangsa tersebut tinggal menunggu waktu untuk punah.
a.    Unsur-Unsur Budaya
Unsur-unsur kebudayaan digolongkan kepada unsur besar dan unsur kecil yang lazimnya  disebut dengan istilah culture universal karena disetiap penjuru dunia manapun kebudayaan tersebut dapat ditemukan, seperti pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Beberapa dari orang yang sarjana telah mencoba merumuskan unsur-unsur pokok kebudayaan, seperti Bronislaw Malinowski dan C. Kluckhoh.
·      Bronislaw Malinowski
Bronislaw Malinowski menyatakan bahwa ada empat unsur pokok kebudayaan yang meliputi sebagai berikut:
ü Sistem norma-norma yang memungkinkan kerja sama antaranggota masyarakat agar menyesuaikan dengan alam sekelilingnya. 
ü Organisasi ekonomi
ü Alat dan lembaga atau petugas untuk pendidikan (Keluarga adalah lembaga pendidikan utama). 
ü Organisasi kekuatan (Politik)
·      C. Kliucckhohn
C. Kliucckhohn menyebutkan ada tujuh unsur kebudayaan, yaitu sistem mata pencaharian hidup; sistem peralatan dan teknologi; sistem organisasi kemasyarakatan; sistem pengetahuan; bahasa; kesenian; sistem religi dan upacara keagamaan.
·      Herskovits
Herskovits memandang bahwa kebudayaan merupakan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain yang kemudian disebut sebagai superorganik.
·      Andreas Eppink
Kebudayaan mengandung bentuk dari keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
·      Edward Burnett Tylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan dari yang kompleks yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sifat hakikat kebudayaan adalah ciri-ciri khusus dari sebuah kebudayaan yang  masing-masing masyarakat yang berbeda. Pada masyarakat barat makan sambil berjalan, bahkan setengah berlari adalah hal yang biasa karena bagi mereka the time is money. Hal ini jelas berbeda dengan masyarakat timur. Jangankan makan sambil berjalan, bahkan makan berdiri saja sudah melanggar etika. Walaupun demikian, secara garis besar, seluruh kebudayaan yang ada di dunia ini memiliki sifat-sifat hakikat yang sama. Sifat-sifat hakikat kebudayaan sebagai berikut :
·      Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia. 
·      Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan. 
·      Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya. 
·      Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang, dan tindakan-tindakan yang diizinkan. 

Semua kebudayaan senantiasa bergerak karena ia dinamis karena sebenarnya gerak kebudayaan adalah gerak manusia itu sendiri. Gerak atau dinamika manusia sesama manusia, atau dari satu daerah kebudayaan daerah lain, baik disengaja maupun tidak disengaja, seperti migrasi atau pengungsian dengan sebab-sebab tertentu. Dinamika dalam membawa kebudayaan dari suatu masyarakat ke masyarakat lain yang menyebabkan terjadinya akulturasi. 
Proses akulturasi kebudayaan dalam sejarah umat manusia telah terjadi pada umat atau bangsa-bangsa terdahulu. Dimana Adakalanya kebudayaan yang dibawa dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat setempat dan adakalanya ditolak, parahnya ada juga sekelompok individu yang tetap tidak menerima kebudayaan asing walaupun mayoritas kelompok individu di sekelilingnya sudah menjadikan kebudayaan tersebut bagian dari kebudayaannya. 
Pada umumnya, unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah sebagai berikut : 
·       Unsur kebudayaan kebendaan, seperti alat-peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya, contohnya adalah pada alat tulis menulis yang banyak dipergunakan orang Indonesia yang diambil dari unsur-unsur kebudayaan barat. 
·       Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar misalnya radio transistor yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat mass-media. 
·       Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk melengkapi pabrik-pabrik penggilingan. 
Unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh suatu masyarakat adalah sebagai berikut :
ü Unsur yang menyangkut sistem kepercayaan, seperti ideologi, falsafah hidup, dan lainnya
ü Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang sangat mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat. Nasi merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok lainnya. 

b.             Ciri-Ciri Kebudayaan
Ciri-ciri kebudayaan tersebut adalah senantiasa berubah, tingkah laku yang dipalajari, pola tingkah laku yang dipelajari, hasil dari tingkahlaku orang yang dipelajari, dibagi oleh anggota masyarakat, dan dialihkan oleh para anggota.
1.             Senantiasa berubah
Kebudayaan itu bersifat dinamis, selalu berubah sesuai dengan      perkembangan situasi atau zaman yang membingkainya.
2.             Tingkahlaku yang dipelajari
Kebudayaan sangat mempengaruhi pembentukan manusia.Anggota masyarakat terus   melakukan proses belajar, misalnya dari orang tua, teman, lingkungan sekolah, lembaga keagamaan, dan sebagainya.
3.              Pola tingkah laku yang dipelajari
Bahwa tingkah laku yang dipelajari mempunyai hubungan di antara unsur-unsur pola tersebut.
4.      Hasil dari tingkah laku yang dipelajari
Ide dari seseorang merupakan hasil dari apa yang ia pelajari orang atau kelompok yang lain. Ada tiga wujud hasil kebudayaan yang dipalajari, yaitu menyangkut nilai-nilai, gagasan-gagasan, norma dan sebagainya; kompleks tindakan-tindakan berpola; dan pengetahuan untuk menghasilkan benda-benda hasil karya manusia.
5.     Dibagi oleh anggota masyarakat
Tingkah laku yang dipelajari itu hasil-hasilnya tidak milik seseorang atau kelompok tertentu. Ia merupakan milik masyarakat secara menyeluruh. Nilai dan sikap itu dipelajari dari masyarakat.
6.    Dialihkan para anggota
        Tingkah laku yang dipelajari dialihkan atau ditularkan dari satu generasi berikutnya melalui bermacam-macam cara, misalnya melalui tulisan di tembok atau prasasti, dan sebagainya.

B.            Suku Melayu
Menurut Koentjaraningrat, suku bangsa berarti sekelompok manusia yang memiliki kesatuan budaya dan terikat oleh kesadaran dan identitas tersebut. Kesadaran dan identitas biasanya dikuatkan oleh kesatuan bahasa.
Suku bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari golongan-golongan sosial lainnya, karena mempunyai ciri-ciri yang paling mendasar dan umum yang berkaitan dengan asal-usul, tempat asal, serta kebudayaannya. Suku bangsa merupakan suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan. Suku bangsa merupakan gabungan sosial yang dibedakan dari golongan-golongan sosial karena mempunyai ciri-ciri paling mendasar dan umum berkaitan dengan asal usul dan tempat asal serta kebudayaan.
Sedangkan pengertian Melayu adalah Suku Melayu (bahasa Malaysia: Melayu Jawi: ملايو) adalah sebuah kelompok etnis dari orang-orang Austronesia terutama yang menghuni Semenanjung Malaya, Sumatra bagian timur, bagian selatan Thailand, pantai selatan Burma, pulau Singapura, Borneo pesisir termasuk Brunei, Kalimantan Barat, dan Sarawak dan Sabah pesisir, dan pulau-pulau kecil yang terletak antara lokasi ini yang secara kolektif dikenal sebagai Alam Melayu. Lokasi ini sekarang merupakan bagian dari negara modern Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Burma dan Thailand. Meskipun begitu, banyak pula masyarakat Minangkabau, Mandailing, dan Dayak yang berpindah ke wilayah pesisir timur Sumatra dan pantai barat Kalimantan, mengaku sebagai orang Melayu. Selain di Nusantara, suku Melayu juga terdapat di Sri Lanka, Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos Malays), dan Afrika Selatan (Cape Malays).
Nama "Malayu" berasal dari Kerajaan Malayu yang pernah ada di kawasan Sungai Batang Hari, Jambi. Dalam perkembangannya, Kerajaan Melayu akhirnya takluk dan menjadi bawahan Kerajaan Sriwijaya.  Pemakaian istilah Melayu pun meluas hingga ke luar Sumatera, mengikuti teritorial imperium Sriwijaya yang berkembang hingga ke Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya. Jadi orang Melayu Semenanjung berasal dari Sumatera.
Pengertian melayu menurut pengertian suku bangsa lebih berdasarkan etnis, walupun begitu syarat bangsa melayu dan kebudayaan melayu masih diperlukan, tetapi tidaklah semestinya beragama islam. Berdasarkan ini orang-orang melayu adalah :
1.  Orang-orang melayu yang mendiami kawasan Thai, pesisir Sumatra (utara medan, deli, sedang, Palembang, riau lingga)
2.  Ada yang beragama budha dan Kristen
3.  Orang-orang melayu di Brunai dan Sabah
Pengertian melayu berdasarkan Ras, yaitu menerangkan penduduk seluruh Nusantara berdasarkan kajian Geldara dan Kern. Mereka berasal dari satu kelompok bangsa kemudian terebar keseluruh nusantara. pengertian mengikut ras ini lebih bertumpu kepada suatu rumpun bangsa yang besar berkaitan.

C.           Sejarah Singkat Asal-usul Rumpun Melayu Datang Ke Indonesia
Orang-orang Austronesia yang memasuki wilayah Nusantara dan kemudian menetap di Nusantara tersebut mendapat sebutan bangsa Melayu Austronesia atau bangsa Melayu Indonesia. Mereka yang masuk ke daerah Aceh menjadi suku Aceh, yang masuk ke daerah Kalimantan disebut suku Dayak, yang ke Jawa Barat disebut suku Sunda, yang masuk ke Sulawesi disebut suku Bugis dan Tanah Toraja, dan mereka yang masuk ke daerah Jambi disebut suku Kubu (Lubu).
Menurut Teori Antropologi, Bangsa Melayu berasal dari percampuran dua bangsa, yaitu Proto Melayu dan Deutero Melayu. Proto Melayu adalah ras Mongoloid, diperkirakan bermigrasi ke Nusantara sekitar tahun 2500-1500 SM, kemungkinan mereka berasal dari daerah : Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau Kepulauan Taiwan. Sementara Bangsa Deutero Melayu berasal dari dataran Asia Tengah dan Selatan, yang datang ke Nusantara pada sekitar tahun 300 SM. Diperkirakan kedatangan Deutero Melayu membawa pengaruh budaya India yang kuat dalam sejarah Nusantara dan Asia Tenggara.
a.              Melayu Tua (Proto Melayu)
Bangsa Melayu Tua ini memasuki wilayah Indonesia sekitar tahun 1.500 hingga 500 SM. Mereka masuk melalui dua rute: jalan barat dan jalan timur. Jalan barat adalah melalui Semenanjung Melayu kemudian terus ke Sumatera dan selanjutnya menyebar ke seluruh Indonesia. Sementara jalan timur adalah melalui Kepulauan Filipina terus ke Sulawesi dan kemudian tersebar ke seluruh Indonesia. Para ahli memperkirakan bahwa bangsa Melayu Tua ini peradabannya satu tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan manusia purba yang ada di Indonesia. Orang-orang Melayu Tua ini berkebudayaan Batu Muda (Neolitikum). Benda-benda buatan mereka masih menggunakan batu namun telah sangat halus. Kebudayaan kapak persegi dibawa bangsa Proto Melayu melalui jalan barat, sedangkan kebudayaan kapak lonjong melalui jalan timur. Sebagian dari mereka ada yang bercampur dengan ras kulit hitam.
Pada perkembangan selanjutnya, mereka terdesak ke arah timur karena kedatangan bangsa Melayu Muda. Keturunan Proto Melayu ini sampai kini masih berdiam di Indonesia bagian timur, seperti di Dayak, Toraja, Mentawai, Nias, dan Papua. Sementara itu, bangsa kulit hitam (Ras Negrito) yang tidak mau bercampur dengan bangsa Proto Melayu lalu berpindah ke pedalaman atau pulau terpencil agar terhindar dari pertemuan dengan suku atau bangsa lain yang mereka anggap sebagai “peganggu”. Keturunan mereka hingga kini masih dapat dilihat meski populasinya sedikit, antara lain orang Sakai di Siak, orang Kubu di Palembang, dan orang Semang di Malaka.
b.             Melayu Muda (Deutro Melayu)
Bangsa Melayu Muda memasuki kawasan Indonesia sekitar 500 SM secara bergelombang. Mereka masuk melalui jalur barat, yaitu melalui daerah Semenanjung Melayu terus ke Sumatera dan tersebar ke wilayah Indonesia yang lain. Kebudayaan mereka lebih maju daripada bangsa Proto Melayu. Mereka telah pandai membuat benda-benda logam (perunggu). Kepandaian ini lalu berkembang menjadi membuat besi. Kebudayaan Melayu Muda ini sering disebut kebudayaan Dong Son. Nama Dong Son ini disesuaikan dengan nama daerah di sekitar Teluk Tonkin (Vietnam) yang banyak ditemukan benda-benda peninggalan dari logam. Daerah Dong Son ini ditafsir sebagai tempat asal bangsa Melayu Muda sebelum pergi menuju Indonesia. Hasil-hasil kebudayaan perunggu yang ditemukan di Indonesia di antaranya adalah kapak corong (kapak sepatu), nekara, dan bejana perunggu.
Benda-benda logam ini umumnya terbuat dari tuangan (cetakan). Keturunan bangsa Deutro Melayu ini selanjutnya berkembang menjadi suku-suku tersendiri, misalnya Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Minang, dan lain-lain. Kern menyimpulkan hasil penelitian bahasa yang tersebar di Nusantara adalah serumpun karena berasal dari bahasa Austronesia Perbedaan bahasa yang terjadi di daerah-daerah Nusantara seperti bahasa Jawa, Sunda, Madura, Aceh, Batak, Minangkabau, dan lain-lainnya, merupakan akibat dari keadaan alam Indonesia sendiri yang dipisahkan oleh laut dan selat. Di samping dipisahkan oleh selat dan samudera, perbedaan bahasa pun disebabkan karena setiap pulau di Indonesia memiliki karakteristik alam yang berbeda-beda. Semula bahasa bangsa Deutro Melayu ini sama, namun setelah menetap di tempat masing-masing mereka pun mengembangkan bahasa tersendiri. Kosakata yang dulu dipakai dan masih diingat tetap digunakan, sedangkan untuk menamai benda-benda yang baru dilihat di tempat tinggal yang baru (Indonesia) mereka membuat kata-kata mereka sendiri. Jadi, jangan heran, bila ada sejumlah kata yang terkadang sama bunyinya di antara dua suku namun memiliki arti yang berbeda sama sekali, tak ada hubungan. Ada pula kata yang memiliki arti yang masih berhubungan meski tak identik, seperti kata “awak”. Kata awak bagi orang Minang berarti “saya”, sedangkan menurut orang Sunda berarti “badan”.
Selanjutnya, bangsa Melayu Muda inilah yang berhasil mengembangkan peradaban dan kebudayaan yang lebih maju daripada bangsa Proto Melayu dan bangsa Negrito yang menjadi penduduk di pedalaman. Hingga sekarang keturunan bangsa Proto Melayu dan Negrito masih bermasyarakat secara sederhana, mengikuti pola moyang mereka, dan kurang bersentuhan dengan budaya luar seperti India, Islam, dan Eropa. Sedangkan bangsa Deutero Melayu mampu berasimilasi dengan kebudayaan Hindu- Budha, Islam, dan Barat.










D.           Sejarah Singkat Asal-usul  Rumpun Melayu  Datang Ke Kalimantan Barat
Menurut Teori Antropologi, Bangsa Melayu berasal dari percampuran dua bangsa, yaitu Proto Melayu dan Deutero Melayu. Proto Melayu adalah ras Mongoloid, diperkirakan bermigrasi ke Nusantara sekitar tahun 2500-1500 SM, kemungkinan mereka berasal dari daerah : Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau Kepulauan Taiwan. Sementara Bangsa Deutero Melayu berasal dari dataran Asia Tengah dan Selatan, yang datang ke Nusantara pada sekitar tahun 300 SM. Diperkirakan kedatangan Deutero Melayu membawa pengaruh budaya India yang kuat dalam sejarah Nusantara dan Asia Tenggara. (Ahmad Samantho ).
Ketika bangsa asing datang di negeri bernama Nusantara ini mereka menyebutnya ras melayu. Hal itu disebabkan oleh penggunaan  bahasa melayu sebagai bahasa pengantar (lingua franca) dan berbudaya melayu yaitu kain kuning, telok belanga; sarong dan rempah jenis makanannya yang sama. Secara antropologis bangsa melayu penyebarannya "hampir' diseluruh wilayah Nusantara. Istilah deutro dan potro melayu adalah dua hal yg berbeda karena  kedatangan bangsa-bangsa tersebut dari Yunan (India belakang) ribuan tahun silam sebelum zaman gletser yang diperkirakan 3.500 tahun SM.
Penemuan terbaru adanya bukti orang-orang Negrito, nenek moyang bangsa Aborigin dan Melanesia pernah menghuni gua-gua di Borneo, pada 50.000 tahun yang lalu,  tidak menutup kemungkinan adanya perkawinan silang sehingga terjadi percampuran semenjak puluhan ribu tahun yang lalu.
Menurut Raden Kesuma Sambas (Nama Facebook), Suku Melayu di Kalbar ini adalah campuran (asmilasi) Dayak dan Melayu. Orang Melayu datang dari Sumatera ke pulau ini sekitar abad ke-5 M hingga 7 M dan kemudian berasimilasi dengan Orang Dayak Iban di pesisir pulau ini lalu menghasilkan masyarakat baru dipesisir (pada saat itu seluruh Sungai-sungai di pulau ini di diami oleh Orang -Orang Dayak sedangkan sebelum kedatang Orang Dayak dari Kamboja, pulau ini dihuni oleh Orang Negrito yang juga berasimilasi dengan Orang Dayak di pulau ini yaitu asimilasi Melayu-Dayak itulah yang menghasil generasi pertama Suku Melayu di Kalimantan Barat yaitu Melayu Sambas (Sungai Sambas) dan Melayu Ketapang (Sungai Pawan). Saat ini percampuran terus terjadi sebagai contoh yang sekarang disebut Orang Melayu Sambas itu adalah campuran (mix asimilasi) secara nasab (garis bapak) dari Melayu, Dayak, Bugis dan Jawa (Orang Cina banyak di wilayah Sambas tetapi masih eksklusif, kalau pun ada asimilasi, jumlahnya masih tidak signifikan).
Penyebaran sub Melayu di Kalimantan Barat yang dapat dijabarkan pada pembagian berdasarkan 2 (dua) kelompok asal-usul (Purba, Juniar dkk,2011:106-108) yaitu :
1.    Melayu Asli (Indegenous Malays),yaitu kelompok Melayu yang telah sangat lama bermukim di Kalimantan Barat (Melayu pribumi/Melayu setempat/Melayu asli) bahkan dimulai dari Melayu lama (Proto Melayu) berdasarkan geografis, penyebaran fisik,karakter kelompok dan dialek setempat yang digunakan.Atas dasar empat kriteria tersebut,kelompok Melayu Asli (Indegenous Malays) dapat dibagi kedalam 4 (empat) kategori dan terbagi atas sub pengelompokan yaitu:
§  Melayu Pesisir (bermukim di kawasan tepi pantai,laut,sungai, terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Sambas, sub Melayu Mempawah, sub Melayu Kubu Raya dan sub Melayu Pontianak. Khusus diKalimantan Barat, kelompok Melayu ini mayoritas tersebar dikawasan pesisir dan mereka merupakan kelompok yang telah lama bermukim didaerah ini. Bahkan secara umum masyarakat ini dikenal sebagai salah satu penduduk asli Propinsi Kalimantan Barat selain masyarakat Dayak yang lebih banyak tinggal dipedalaman di wilayah Kalimantan Barat. Sehingga kelompok Melayu ini menghasilkan karakter khas yang bersifat 17 elative lebih tenang dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan alam.
§  Melayu dari kawasan pedalaman dekat, terbagi atas sub pengelompokan meliputi: sub Mempawah Hulu, sub Melayu Bengkayang, sub Melayu Landak, sub Melayu Sanggau.
§  Melayu dari kawasan pedalaman jauh, terbagi atas sub pengelompokan meliputi: sub Melayu Tayan,sub Melayu Sekadau, sub Melayu Melawi,sub Melayu Sintang, sub Melayu Kapuas Hulu.
§  Melayu dari kawasan peralihan pada dua kawasan pedalaman, terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu Kayong Utara, sub Melayu Ketapang.
2. Melayu Kontemporer (Contemporary Malays) yaitu kelompok pendatang yang berasal dari berbagai kawasan Melayu diluar Kalimantan Barat diantaranya :
§  Daratan Sumatera seperti Palembang,Bengkulu,Sumatera bagian timur (Bangka Belitung, Medan dan sekitarnya, Jambi, Riau Daratan), Riau Kepulauan (Kepulauan Natuna, Tanjungpinang dan Batam sekitarnya).
§  Daratan Kalimantan seperti Kaltim, Kalsel.
§  Malaysia (Semenanjung/Malaysia Barat dan Malaysia Timur seperti Sarawak dan Sabah.









BAB III
PEMBAHASAN
A.           Bentuk-bentuk dan Susunan Kebudayaan Suku Melayu Kapuas Hulu
a.            Melayu Kapuas Hulu
Masyarakat melayu (Kapuas Hulu) terkenal dengan bermacam-macam kebudayaan-nya, dilihat dari segi bahasa, perilaku masyarakat, adat istiadat, seni, dan masih banyak lagi keanekaragaman budaya masyarakat melayu. Masyarakat Melayu (Kapuas Hulu) sangat mengutamakan perilaku yang sopan, ramah, serta selalu menggunakan tutur bahasa yang halus. Masyarakat Kapuas Hulu menjunjung tinggi asas kekeluargaan, terlihat dari segi bermasyarakat yang damai, suka bergotong royong. Melayu (Kapuas Hulu) banyak bermukim dipesisiran sungai Kapuas, sehingga masyarakatnya banyak yang  bermata pencaharian sebagai nelayan. Melayu di Kapuas Hulu   mirip dengan suku dayak,  hanya saja orang melayu tidak makan, makanan yang diharamkan menurut ajaran islam.
Di Kapuas Hulu juga banyak masyarakatnya suku asalnya dayak tapi telah jadi melayu. Kedatangan kaum pendatang atau kaum melayu tersebut secara tidak langsung mendesak suku asli secara berangsur-angsur semakin masuk ke pedalaman. Jadilah suku-suku bangsa pendatang seperti suku bangsa Melayu sebagai penghuni tetap daerah yang ditinggalkan orang Dayak. Mereka itu termasuk kelompok suku bangsa yang beragama Islam yang hidup dengan caranya sendiri dan dengan kebudayaan serta kepercayaan yang dibawa dari tanah asalnya. Mereka tidak mau hidup dengan tata cara penduduk asli. Sebaliknya mereka membangun beberapa pemukiman kecil dihulu sungai sungai besar. Lama kelamaan secara tidak disadari penduduk asli pun banyak yang terpengaruh dengan cara hidup kaum pendatang. Mereka mulai ikut serta memeluk agama Islam. Proses ini dikenal dengan istilah masok melayu atau turun melayu. Jika mereka ditanya, pada umumnya akan menjawab bahwa mereka bukan suku Dayak. Mereka justru mengaku sebagai Melayu “Sejati”, karena Melayu itu identik dengan kemajuan sosial. Salato dalam bukunya Hornbill dan Dragon, mengatakan bahwa hampir 90 % dari seluruh suku Melayu adalah orang Dayak yang sudah masuk agama Islam. Masuknya suku pendatang khususnya Melayu, tidak hanya menuju ke satu tempat saja melainkan hampir diseluruh pesisir Kalimantan.
Hal ini membuat mereka besar jumlahnya, namun menurut kenyataan jumlah mereka lebih kecil dibandingkan dengan jumlah suku Dayak. Untuk itu, untuk membedakan suku Dayak dengan suku Melayu yaitu dengan melihat cara mereka berpakaian. Wanita Melayu cenderung memakai kerudung mendiami rumah keluarga yang bertiang. Dibeberapa tempat terutama di sepanjang tepi sungai kebanyakan mereka mendiami rumah apung yang sering disebut rumah lanting. Dari tempat tinggal mereka dapat diketahui bahwa pada umumnya mereka hidup sebagai nelayan dan berdagang. Perlu juga diketahui bahwa dengan masuknya suku Melayu di Kapuas Hulu ini, berarti masuk pula agama Islam. Berikut sedikit ulasan masukya agama Islam ke Kapuas Hulu.
b.           Sejarah Islam Masuk ke Kapuas Hulu
   Islam berkembang pesat di Kapuas Hulu, sejak tahun 150 tahun lalu agama samawi ini diterima oleh penduduk setempat. Menjadi anutan mendampingi kepercayaan lama yang mereka miliki. Jumlah penduduk Islam mencapai 56 persen dari jumlah penduduk Kapuas Hulu, bahkan dialiran sungai umat islam di Kapuas Hulu mencapai 100 persen.
   Van Kessel asal orang Belanda, dia melewati ke Kapuas Hulu pertengahan abad ke-19 atau sekitar tahun 1840. Waktu itu dia melaporkan penduduk Selimbau, Embau, Silat, dll (dalam wilayah Kapuas Hulu sekarang) sudah memeluk agama islam. Dia hanya menyebutkan diperkirakan orang–orang disini masuk islam beberapa tahun sebelum kedatangannya. Mereka beragama islam tetapi masih mengambalkan tradisi lama seperti: buang-buang dan hukum adat sampai sekarang masih mengambalkan semacam itu. Beberapa tahun lalu diperoleh data bahwa secara keseluruhan Kapuas Hulu sebanyak 180 ribu jiwa. Dari jumlah itu 100 ribu beragama islam sisinya 56% beragama Katolik, Kristen dan Buddha. Islam tidak tersebar merata di Kapuas Hulu, pada umumnya penduduk dipinggir sungai Kapuas beragama Islam. Mulai dari Silat, Semitau, Selimbau, Jongkong, Bunut Hilir, Sampai Putussibau hampir semua beragama islam. Dibeberapa anak sungai Kapuas minsalnya Silat, Embau dan Bunut Hilir penduduk islam juga lebih banyak.
   Di Embau, islam dianut oleh 100 persen dari 20 ribu penduduk, di sepanjang sungai Bunut Hilir, penduduk juga lebih banyak yang beragama Islam. Diperkirakan mencapai 80 persen  disungai Bunut Hilir hanya ada 3 kampung kantuk yang terselit diantara kampung orang melayu. Ada beberpa lagi kampung di Hulu sungai dan Dayak Suruk dibagian  Hulu sungai Kelibang, banyak kampung disungai Bunut Hilir yang memeluk agama islam. Islam dikawasan Embau khususnya Jongkong memiliki citra tersendiri pada tahun 1950-an, islam disini Identik dengan Islam yang taat dan alim. Sekolah yang ditanganinya menjadi tempat belajar orang-orang yang ingin mendalami agama Islam secara formal. Bukan hanya di Embau saja tetapi juga dari Putussibau, Badau dan Silat. Bahkan pada tahun 1970-an pelajar sekolah agama disini datang dari Sintang dan Melawi. Sejak 50 tahun terakhir Jongkong dianggap sebagai pusat islam di Kapuas Hulu.
o      Tokoh-Tokoh Penyebaran Islam Kapuas Hulu
   Tidak diketahui siapa mubaligh dan guru agama yang terlibat dalam penyebaran agama islam pada masa dulu. Cacatan yang diperlihatkan hanya menyebut beberapa nama yang datang ke Embau pada abad ke-20. Menurut Mohd Malik (1985:48) yaitu Lebai Cama sekitar (1913-1917), Haji Mustafa dari Banjar (1917-1918), Lebang, Dampung dari Nanga Silat (1918-1919), Lebai Ngiril (1923-1928), Syeh Abdurrahman dari Taif Madinah (1926-1932), Haji Abdul Hamid dari palembang (1932-1937), Muhtar Zaini dari Padang Sumatra  Barat (1936-1940), Sulaiman dari Nanga Pinoh (1940-?), Haji Muhtar Idris dari Sumtra Barat (1940-1948) dan Haji Ahmad asal Jongkong  (sekarang).
Para guru agama ini mengajarkan membaca Al-Qur’an, Fiqih, dll dirumah dan dimasjid, khususnya mengenai pengajaran membaca Al-Qur’an mereka menggunakan metode Baqdadiyah. Meteri Fiqih yang diajarkan oleh Haji Abdul Malik Karui, sebagaimana yang diperoleh dari naskah tulisan tangan memperlihatkan ajaran Fiqih yang Spesifik dalam pengertian memperlihatkan pendekatan yang agak berbeda dengan pendekatan yang digunakan sekarang ini.
o      Pencitraan Islam Kapuas Hulu
   Pada abad ke-19 dan abad ke-20 saat Islam mencapai puncak perkembangan secarah kuantitas, Melayu dianggap sebagai indentitas yang diterima secara meluas. Melayu berkaitan dengan citra yang lebih tinggi, umpamanya citra kebangsawaan. Wilayah yang bertahta di muara sungai adalah raja-raja Melayu, ada kebanggan jika seorang rakyat jelata bisa masuk islam.
   Citra yang dibawa dari identitas Laut dan Barat adalah bahwa Laut melambangkan kemajuan sedangkan Darat melambangkan ketertinggalan, jika dibandingkan sekarang adalah citra antara kota dan kampung, sehingga lama-kelamaan pasti ada kesan minder di kalangan orang Darat apa bila mereka mengunakan terminology ini. Untuk mencapai citra ini, seseorang cukup masuk islam mengucapkan dua kalima syahadat, mandi srotu, sunat bagi laki-laki, merubah nama  dan bahasa Melayu. Ucapan dua kalima syahadat, bisa dipelajari dengan mudah karena lafaznya pendek, sedangkan mandi srotu harus mandik bercampurkan dengan tanah yang keruh dan bersunat adalah memotong bagian kulup pada ujung kemaluan laki-laki. Sunat ini ada sesuatu kewajiban, “pencitraan” terbatas, karena besunat memberi penanda sebagai islam dan bukan islam. Sesungguhnya beberapa kelompok pribumi yang bukan islam juga besunat.
   Identitas Dayak ketika itu membawa konotasi negatif dan bagi orang pribumi, sebutan Dayak ketika itu dianggap melecehkan. Pribumi yang disebut sebagai Dayak merasa malu ketika diidentifikasi sebagai Dayak. Identitas yang diberi orang ketika itu tidak diterima. Menjadi islam Melayu tidak mengubah kepercayaan masyarakat secara drastis. Kepercayaan lama, kepercayaan kepada yang ghaib tetap saja dipakai masyarakat. Sekalian mereka sudah beragama Islam. Isu syirik yang menduakan Allah, tidak cukup menonjolkan kalau tidak ada sama sekali pada masa awal ini. Sejumlah kepercayaan Islam tetap diamankan masyarakat sebagai “pegangan” mereka dalam menjalani kehidupan. Masyarakat perdalaman terminologi Islam Melayu meskipun identitas tetapi tidak sama persis.
   Ada perbedaan antara Islam dan Melayu, Islam dianggap lebih taat dan lebih memiliki pengetahuian  agama yang luas dan mengambalkan kebiasaan lama dll. Oleh sebab itu ketika mereka menjadi Melayu mereka merasa nyaman karena tidak harus dibebankan dengan sejumlah kewajiban yang kadang-kadang dirasakan cukup berat juga. Adakala identitas dari sumber diterima langsung ada kalanya diterima melalui proses panjang. Identitas itu dibentuk berdasarkan bahan agama, bahan budaya, bahan politik, bahan bahasa, bahan keturunan, bahan sejarah, bahan geografi, dll. Tidak heran jika kemudian seorang anak manusia pedalaman bisa diidentifikasi sebagai Ahmad. Ungal, Abang, Urang Rian Panjang, Urang Ngkadan, Urang Embau, Urang Ulu, Urang Melayu, Urang Senganan, Urang Laut, Urang Dayak Islam, dll. Mengaktifkan bentuk identitas ini dilakukan berdasarkan pertimbangan pragmatis, sesuai situasi dan kondisi sosial.


c.             Geografi  dan  Demografi  Suku Melayu  Kapuas  Hulu
Kapuas Hulu, adalah kawasan yang merujuk pada tempat di hulu Sungai Kapuas. Nama ini menjadi nama wilayah administrasi kabupaten (daerah) di Hulu Sungai ini. Wilayah administrasi yang berada di bawah wilayah Kapuas Hulu membentang dari Nanga Silat di bagian paling hilir yang berbatasan dengan Kabupaten Sintang hingga ke wilayah Hulu Bungan, di bagian timur. Arah timur ini berbatasan dengan Kalimantan Timur. Wilayah Kapuas Hulu ke arah selatan, berbatasan dengan Kalimantan Tengah dan ke arah utara berbatasan dengan Lubuk Antu, Sarawak, Malaysia. Ibu kota Kapuas Hulu adalah Putussibau. Kota ini terdapat di tebing Sungai Kapuas dan persimpangan (muara) Sungai Putus. Kota kecil di Kapuas Hulu adalah Jongkong, Nanga Tepuai, Badau, Semitau, Selimbau, Bunut, Boyan Tanjung, dan beberapa lagi kota yang sangat kecil.
Kapuas Hulu dapat dicapai dengan menggunakan angkutan sungai, darat dan udara. Angkutan sungai adalah angkutan tradisional; satu-satunya pilihan sebelum orang mengenal angkutan darat. Sungai Kapuas yang luas dan cukup dalam memungkin perahu motor besar digunakan. Perjalanan dari Pontianak – wilayah Kapuas Hulu, memerlukan masa 3-5 hari menggunakan motor air (bandung). Motor bandung ini hanya dapat mengarungi Sungai Kapuas. Sedangkan untuk melayani transportasi kampung-kampung yang terdapat di anak-anak sungai seperti Sungai Silat, Batang Tawang, Sungai Embau, Batang Bunut, Embaloh, menggunakan speedboat (perahu tempil). Angkutan darat digunakan untuk menghubungi kota-kota utama Kapuas Hulu baru berlangsung belakangan ini, sejak Jalan Lintas Selatan yang menghubungkan Putussibau – Sintang dibuka pertengahan tahun 1990. Sedangkan jalur ke utara – Putussibau – Badau baru terbuka sejak tahun 2000. Di jalur-jalur ini sudah pula beroperasi bus. Angkutan udara ke Putussibau hanya dilayani dengan pesawat kecil berpenumpang 28 orang yang melayani trayek Putussibau – Sintang – Pontianak. Satu pekan ada 4 hari penerbangan, masing-masing satu satu penerbangan berangkat dan tiba.
Dari segi agama sebagian besar beragama Islam sekitar 80% sedangkan 20% lagi beragama Katolik, Kristen dan sedikit Buddha. Penduduk di wilayah selatan umumnya beragama Islam. Sepanjang Sungai Embau 100% penduduk beragama Islam. Di kawasan Sungai Bunut jumlah pemeluk Islam mencapai hampir 90%. Begitu juga di sepanjang aliran Sungai Kapuas. Di wilayah utara umumnya penduduk beragama Kristen atau Katolik.
Misalnya wilayah sepanjang Sungai Empanang 95% menganut Kristen atau katolik. Dilihat dari segi etnisitas, penduduk bagian selatan Sungai Kapuas kebanyakan adalah orang Melayu. Keadaan ini senyampang dengan jumlah penduduk berdasarkan agama. Sedangkan penduduk di utara Sungai Kapuas kebanyakan adalah Iban, Kantuk, Taman. Di bagian hulu kebanyakan orang Taman, dibagian barat terdapat orang Suaid, Seberung, Nanga Silat.
d.           Bentuk Budaya Melayu Kapuas Hulu
i.                   Upacara Tepung Tawar
Upacara adat Tepung Tawar kini telah menjadi sebuah keharusan, menjadi sebuah trend dijaman modern ini, tentunya kita melirik kembali tentang keberadaan upacara Tradisi Tepung Tawar ini yang pada jaman dahulu seperti menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat yang melaksanakan sebuah upacara-upacara baik upacara di dalam kehidupan rumah tangga maupun upacara bagi masyarakat pada umumnya. Upacara tradisi Tepung Tawar umumnya bayak dilakukan oleh masyarakat Melayu dan Suku Dayak akan tetapi pada masyarakat Melayu upacara tepung tawar yang dikenal pada umumnya ada enam jenis yakni tepung tawar badan, tepung tawar peralatan, tepung tawar rumah, tepung tawar tiga hari setelah orang dirumah meninggal, tepung tawar pada ikan peliharaan, Tepung Tawar Bagi Anak Bayi. Tepung tawar  ada beberapa jenis tepung tawar tersebut  tidak mempunyai perbedaan baik yang menyangkut peralatan maupun bahan-bahan yang dipergunakan. Seperti Tepung Tawar Badan komposi terdiri dari, air tepung beras, beras kuning, berteh daun juang-juang daun ketabar, daun juaran dan pisau dapur dll.
ü Tradisi tepung tawar badan diperuntukan bagi anak kecil yang melaksanakan gunting rambut, melaksanakan pernikahan, dan yang akan dihitan bagi laki-laki dan peremtuan, dilakukan pada anak laki-laki yang akan melakukan sunatan baik sebelum maupun ketika akan melakukan selamatan, dilakukan pada orang yang selamat dari musibah, pada anak perempuan yang baru pertama kali menstruasi.  Objek yang akan diberikan menurut tata cara yang berlaku, serta dilampas dengan memakai daun juang-juang maupun daun ribu-ribu yang telah di celupkan pada seperangkat peralatan tepung tawar. Adapun bagian-bagian yang dikenakan secara berurutan pada kening, bahu kanan, bahu kiri, tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, serta kaki kiri sementara paduan berteh dihamburkan pada kiri dan kanan tersebut. Kemudian pisau dapur itu di gigit dan diletakan ke kening sebentar.
ü Upacara ritual tepung tawar peralatan sama seperti tepung tawar yang lainnya, hanya tidak menggunakan pisau dapur. Biasanya yang ditepung tawar ini adalah kendara yang baru maupun kendaran yang telah mendapat musibah seperti setelah kecelakaan atau kendaraan hilang ditemukan kembali. Jika ini tidak dilakukan dengan tepung tawar sebagian kepercayaan masyarakat akan mempengaruhi jiwa, kendaraan bisa menabrak atau ditabrak dan bahkan bisa hilang dicuri yang biasa diungkapkan dengan kata-kata “Sueh”. Lafaz doa yang disebutkan seperti doa selamat dan doa tolak bala.
ü Upacara tepung tawar mayit dengan tepung tawar yang lain tidak berbeda dengan tepung tawar badan. Tujuan dari upacara tepung tawar mayit yang dikenal dengan Pesilli agar ahli keluarga yang ditinggalkan tidak meninggal dalam waktu yang tidak berjauhan dari orang yang meninggal tadi. Dapat terhindar dari musibah dengan memohon agar dijauhkan dari segala musibah yang datang dengan mohon keselamatan, tidak hanya manusia dan juga peralatan yang telah dipakai dengan wujud terimakasih telah dipergunakan sebagai peralatan mandi. Ada pun tepung tawar ini dikenakan kain kafan dari orang yang meninggal tersebut, papan pemandian mayat dan pada keluarga-keluarga yang ditinggalkan mayat.
ü Upacara tepung tawar rumah dengan tepung tawar yang lain juga tidak berbeda dengan tepun tawar badan hanya saja caranya yang berbeda, tepung tawar rumah mempunyai tahapan-tahapan, tahapan yang pertama ketika mau mendirikan tiang rumah, bahan-bahan yang dipakai seperti bahan tepung tawan badan ditambah hanya saja tidak menggunakan pisau. Hal ini bertujuan agar tiang yang didirikan tidak goyah atau tetap berdiri tegak, terkadang pada pendirian tiang rumah ada yang menggunakan anak ayam dan bambu yang dianyam pada bagian atasnya. Tiang itu diletakan didekat rumah yang mau didirikan tiang, dan anak ayam itu dimasukan kedalam lubang tanah lalu ditancapkan dengan tiang rumah tersebut, dengan tujuan agar tidak ada roh jahat menggagu rumah tesebut saat rumah itu telah dibangun.
ü Upacara tepung tawar pada ikan peliharaan khususnya ikan arwana, tepung tawar ini bahannya juga tidak jauh berbeda dengan tepung tawar badan hanya saja tidak menggunakan pisau dapur, tepung tawar itu biasanya dikenakan pada ikan yang baru dibeli atau akan dimasukan kedalam kolam ikan. Hal ini dilakukan agar ikan arwana itu bisa member hoki kepada orang yang memeliharanya agar dia cepat bertelur atau cepat laku. Ikan arwana juga dipercaya adanya roh gaib.
ü Upacara Tepung Tawar bagi anak bayi juga dilakukan dengan upacara ritual dengan segala persiapan yang disediakan bagi ahli keluarga yang mempunyai hajatan. Peralatan yang perlu dipersiapkan dan dengan lengkap harus sudah ada jika acara dimulai. Adapun perlengkapan alat-alat tersebut antara lain; Beras yang ditumbuk dicampur dengan daun pandan dan kunyit dibuat tepung.  Besi, kayu arus, bekas kayu baker diikat dengan tali disebut mereka pengkeras. Benang diikat yang diputarkan diatas kepala menurut mereka mudah-mudahan keluarga itu dapat diikat hatinya menjadi suatu ikatan yang kuat dan kokoh tak ubahnya seperti benang itu. Beras dimasukan ke dalam gantang, sirih, pinang, tembakau, gambir, kapur, uang logam secukupnya disebut pengkeras. Beras yang dicelup dengan kunyit disebut beras kuning atau beras kunyit. tepung tawar gunting rambut bayi. Menurut adat dan tradisi Melayu Kabupaten Kapuas Hulu, seorang bayi yang baru lahir mempunyai pantangan rambutnya digunting sebelum melalui acara ini, namun dalam pelaksanaan dibedakan atas dua macam, yakni ada yang dilakukan tanpa biaya, pada waktu selamatan kelahirannya digunting dalam ayunan dikarenakan kurang adanya kemampuan ekonominya, tetapi jika orang tuanya mempunyai kemampuan ekonomi pada lazimnya dilakukan dengan cara tepung tawar (serakalan), dengan 12 lagu yang berbeda setiap bait.
ii.                   Tumbang Apam


Merupakan sebuah acara yang terdapat di kabupaten Kabupaten Kapuas Hulu,   Tumbang Apam adalah sebuah acara yang dilaksanakan ketika hajat seseorang tersampaikan dan ia mewujudkan rasa syukur melalui Tumbang Apam tersebut. Acara ini dilakukan dengan diawali, apam yang dikukus, serabi dan apam yang dibakar ditusuk ke pelepah kelapa yang sudah dibuang daunnya dan hanya tersisa tulang daunnya yang sesuai dengan dengan tinggi orang yang melakukan hajat tersebut.
 Apam adalah makanan yang terbuat dari tepung beras atau bisa juga terbuat dari terigu. Acara tumbang ini dilakukan apabila, anak kecil duduk atau berdiri menumbangkan pelepah kelapa yang sudah ditusukan makanan tersebut. Biasanya orang berhajat melakukan tumbang apam, ibu hamil yang beharap agar melahirkan dengan selamat, dan sesorang yang sembuh dari suatu penyakit.

iii.                   Buang-Buang
Buang-buang atau biasa dikenal dengan pemberian sesajen kepada roh leluhur merupakan sebuah tradisi yang harus dilakukan oleh masyarakat ketika akan melahirkan atau akan mengadakan acara, hal ini dilakukan supaya roh-roh nenek moyang tidak mengganggu ketenangan orang-orang yang akan berbahagia. Bahan-bahan sesajen ini berupa nasi yang bentuk dan diberi warna: yang biasanya berwarna merah, kuning hitam dan putih. Selain nasi ada juga daun sirih, buah pinang, buah pisang, dan rokok daun nipah. Buang-buang ini biasanya dihantarkan ke sungai dan ada juga yang menghantarkan nya ke rimba.

iv.                   Upacara Adat Kematian
Upacara kematian atau disebut dengan tahlilan yaitu uacara yang dilakukan ketika didalam keluarga seseorang habis meninggal dunia. Upacara ini dilakukan dari pertama sesorang meninggal sampai hari ke tujuh  orang itu meninggal. Dengan makanan-makanan yang berbeda pada setiap harinya. Salah satunya adalah makan Serabi, orang-orang diberi makan serabi dengan tujuan agar orang yang meninggal tersebut mendapat payung diakhirat, dan hari ke tiga dank e tujuh makanannya adalah nasi.


e.             Bahasa Melayu Kapuas Hulu
Bahasa utama di Kapuas Hulu adalah bahasa Melayu. Bahasa ini menjadi linguafranca di kota pusat-pusat administrasi pemerintah dan perdagangan. Bahasa Melayu juga digunakan ruang-ruang semi formal, sedangkan di ruang formal digunakan bahasa Indonesia.  Bahasa Melayu Ulu Kapuas dituturkan oleh penutur masyarakat Melayu sebagai bahasa pertama, dan bahasa Melayu juga dituturkan oleh penutur bukan Melayu sebagai bahasa kedua. Sejauh yang diketahui hari ini, varian Melayu di Kapuas Hulu ada empat. Ke empat varian itu adalah:
·                Varian Embau
Varian Embau adalah dituturkan di sepanjang Sungai Embau, Sungai Bunut, dan beberapa kampung di tebing sungai Kapuas bagian tengah. Bahkan varian ini juga dituturkan di Badau, sebuah kota kecil di perbatasan Kapuas Hulu - Lubuk Antu, Sarawak (Ibrahim, 2007). Ciri penting varian Embau adalah wujudnya bunyi [o] pada suku pra-akhir yang dalam varian bahasa Indonesia Standar wujud bunyi. Contohnya: Berjalan menjadi bejaloon.
Varian Embau adalah salah satu varian yang cukup penting dalam dialek Ulu Kapuas. Penting karena jumlah penutur dijangka paling banyak. Jumlah penduduk Embau lebih dari 20 ribu. Sedangkan jumlah penduduk di Batang Bunut ditaksir sekitar 25 ribu. Jadi total penutur varian ini tidak kurang 50 ribu.
Tetapi kedudukan varian ini tidaklah sejajar dengan varian Putussibau – Semitau.
·                Varian Selimbau
Varian Selimbau dituturkan di wilayah Selimbau dan sekitarnya, yang berbatasan dengan varian Embau. Orang menyebut varian ini sebagai “nyelimaw”, maksud bertutur gaya Selimbau. Data yang dipetik di Piasak, kecamatan Selimbau.
Ciri penting varian ini adalah wujudnya bunyi [E] pada posisi pra-akhir yang dalam varian lain wujud sebagai [E]. Contoh: Kemana menjadi kemena.
Varian ini memang memiliki penutur yang terbatas. Jumlah hanya beberapa ribu orang saja. Namun, meski demikian bahasa ini memiliki kedudukan sosial yang kuat. Setidaknya orang-orang di Selimbau, Piasak dan Nibung masih memperlihat kesetiaan terhadap varian ini.
·                Varian Putussibau – Semitau
Varian Putussibau – Semitau dituturkan di sekitar Semitau, Nanga Suhaid, Nanga Silat dan sekitarnya, hingga batas wilayah varian Selimbau. Selain itu, varian ini juga dituturkan di bandar Bunut, hingga Putussibau –pusat pentadbiran Kapuas Hulu. Boleh dikatakan, varian ini adalah varian utama di kawasan Kapuas Hulu.
Varian ini mengalami perkembangan yang cukup berarti; baik secara geografis maupun secara sosial. Dilihat dari sisi geografis, varian ini bukan hanya dituturkan di kawasan. Contohnya: Kemana menjadi ke’mena.
·                Varian Embau Hulu
Varian Embau Hulu dituturkan dibeberapa kampung di sekitar Nanga Tepuai.
Perbedaan varian ini antara lain dapat dikesani dari variasi bunyi pada suku pra-akhir. Data yang dipetik di Nanga Taman, sebuah kampung di bagian hulu Sungai Embau, Kapuas Hulu. Dilihat dari dimensi sosial, varian Putussibau – Semitau memiliki keistimewaan dan citra positif. Maklum dituturkan di pusat pemerintahan dan karena itu kebanyakan penuturnya adalah orang yang terpelajar, dan para pegawai.
Orang-orang ini membawa varian ini ke daerah ke wilayah pertuturan varian lain. Status sosial penutur mempengaruhi citra orang terhadap bahasa ini.
Ciri yang cukup penting yang dalam Varian Embau Hulu adalah wujudnya bunyi pada posisi akhir, yang dalam varian Embau dan varian lain wujud sebagai [a].

f.             Kesenian
Keunikan seni budaya masyarakat Melayu yang tumbuh dan berkembang secara tradisional yang mempunyai karakteristik tersendiri yang masih bersifat alami, namun di sisi lain adanya beberapa nilai tertentu yang mengalami kondisi krisis akibat pengaruh arus globalisasi dan budaya asing tetapi tidak mengurangi dari norma-norma adat istiadat budaya etnis tersebut.
·                Tari Belangkah
Tari Belangkah atau ada juga yang menyebut tari japin, merupakan tari pergerakan kaki cepat mengikuti rentak pukulan gendang. Tarian ini bersifat mendidik dan menghibur, yang mana digunakan sebagai media pendidikan melalui syair pantun yang didendangkan sesuai dengan situasi pementasan. Musik pengirignya terdiri atas tiga alat utama yaitu dua alat music tabuh gendang, gambus, dan juga satu buah gong. Tari belangkah ini sangat beragam bentuknya, ada yang disebut tari belangkah bujur, dan juga ada tari belangkah tali. Tari belangkah ini dilakukan berkelompok oleh laki-laki dan perempuan. Tarian ini biasa dipentaskan saat acara pernikahan, menyambut tamu tertentu baik itu pejabat negara maupun daerah.

g.            Pernikahan
Proses perkawinan yang paling awal dari masyarakat kami adalah proses siapa jodoh yang cocok untuk dirinya. Si lelaki itu merasa cocok maka si lelaki itu ngomong kepada kedua orang tuanya, lalu datanglah orang tua laki-laki itu kepada orang tua perempuan itu yang langkah awal ini disebut merisik. Jika mereka merasa sudah cocok maka langkah selanjutnya adalah Tanda Upa atau Tunagan. Setelah kedua calon merasa sama-sama cocok maka tahap selanjutnya adalah menikah. Sebelum sampai pada hari puncak yaitu hari pelaksanaan perkawinan, terlebih dahulu dilakukan beberapa kegiatan sebagai persiapan yaitu:
·                Besurung
Jika Sebelum menikah dilakukan tahap yang disebut besurung, dimana pada tahap itu si lelaki mengantarkan barang antaranya terdiri dari: perlengkapan untuk tidur seperti: tilam, bantal pipih dua buah, bantal guling satu buah, kelambu, dan selimut, pakaian seperti: pakaian kebaya untuk si perempuan, ibu perempuan, dan pakaian koko untuk ayah perempuan, seperangkat alat sholat, alat-alat make up, sandal, payung, dan pakaian dalam si perempuan dan seperangkat bahan-bahan untuk makan sirih. Setelah itu si perempuan membalasnya dengan kue-kue basah.
·                Menggantung ( hari menggantung ) 


Hari menggantung adalah hari dimulainya secara nyata persiapan upacara perhelatan pernikahan akan dilangsungkan. Ini dilakukan sekira 3 hari menjelang hari pernikahan. Kegiatan ini diawali dengan memasang pentas pelaminan. Setelah pentas pelaminan selesai dipasang maka pentas tersebut ditepung tawari, dan setelah itu barulah dilanjutkan dengan memasang hiasan berupa tabir belang dengan cara digantung, yang dilakukan oleh juru pelaminan. 
·                Akad Nikah
Upacara Akad nikah adalah upacara keagamaan yang sacral yang menentukan syah tidaknya suatu perkawinan dimana seorang ayah akan melepaskan tanggung jawab terhadap anak perempuannya kepada seorang perjaka yang akan menjadi suami dihadapan Kadhi Nikah dan saksi-saksi sesuai hukum syarak dan qur’an. Kata-kata penyerahan dari si ayah disebut Ijab, sedangkan kata jawaban dari siperjaka pengantin lelaki disebut Kabul. Dan upacara ini dilakukan di rumah pengantin wanita. Setelah Ijab Kabul dilanjutkan dengan pengantin lelaki menyembah orng tua pengantin wanita dan orang tua yang patut menurut adat dan lembaganya. Pada acara penyembahan ini terkandung makna untuh memohon keampunan dari kedua orang tua dan keikhlasan menerima kehadiran anak menantunya kedalam keluarga mereka. Seterusnya setelah akad nikah maka si pengantin mestilah tahu akan beban yang menanti, tahu akan apa yang menunggu tahu hidup memegang wakil, tahu alur dengan patutnya, tahu akan salah dan silih, tahu akan fungsi dan tugas suami istri, tahu pula tempat tegaknya istri.
·                Hari Berlangsung (Hari Bersanding) 


Hari langsung (bersanding) adalah hari yang dinanti-nantikan. Karena pada hari ini pengantin diarak dari rumahnya menuju kerumah pengantin wanita untuk diduduk sandingkan disana dengan melalui beberapa urutan kegiatan. Diawali dengan menjumput pengantin lelaki oleh beberapa orang tua sebagai perwakilan pengantin wanita. Kedatangan para penjemput ini sekaligus membawa hidangan (makanan) untuk pengantin lelaki lengkap dengan lauk pauk dan. Rombongan penjemput ini disambut ditengah rumah dan dihidangkan minuman dan makanan.




·                Penetesan air mawar


Penetesan air mawar adalah dimana acara para tamu undangan bersalaman dengan kedua mempelai dan orang tua kedua mempelai, biasanya para tamu undangan bersalaman sambil member kado atau uang kepada kedua mempelai yang sedang berbahagia dan juga penetesan air mawar.
·                Mandi Selamat


Setelah satu hari bersanding kedua mempelai dimandikan dengan air yang dibacakan doa selamat dan doa tolak bala yang mana air tersebut juga telah dimasukan dengan bunga-bunga. Hal ini bertujuan agar kedua pengantian selalu hidup jauh dari malapetaka.



h.           Panggilan-panggilan Umum Dalam Kekerabatan Orang Melayu Kapuas Hulu
Kekerabatan atau sanak saudara adalah unut-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Sistem kekerabatan pada masyarakat melayu di kelimatan barat pada umumnya menganut sistem bilinal atau bilateral yaitu mengambil garis keturunan dari ayah dan ibu. Anak dapat perhatian dan pelaku yang sama dari orang tua maupun dari sanak keluargadari ayah dan ibu. Tetapi dalam pembagaian warisan, anak laki-laki memperoleh bagian yang lebih banyak dari anak permpuan. Sistem kelurga atau kekerabatan adalah hukum adat yang bentuknya tidak tertulis dan di dalamnya terdapat pengaturan mengenai hubungan hukum atau kekerabatan yang terdapat diantara individu dengan individu yang lainya, apakah hubungan ayah dan anak, ibu dan anak, kakek dan cucu, dan sebagainya.
Dari segi kekerabatan masyarakat melayu dibagi kepada dua kelompok :
a) Menerapkan sistem kekerabatan nasab ayah (patrilineal).
b) Menerapkan sistem kekerabatan nasab ibu (matrilineal).
Dalam proses interaksi orang melayu, biasa menggunakan beberapa panggilan umum yang sering mereka gunakan, diantaranya:
ü Wak: orang yang telah terbiasa dipanggil oleh ponakan yang berarti paman atau Om / tante/ bibi, sehingga menjadi wak atan, wak amad, wak siti, wak lela, dan lainya.
ü Umay : panggilan bagi perempuan melayu yang telah berumur misalnya menjadi kebiasaan mak ucu, mak uteh, mak ude, mak njang, dan sebagainya.
ü Wa/Mbok : Panggilan untuk anak yang paling tua
ü Cik : Panggilan untuk anak yang tua kedua
ü Long : panggilan terhadap anak ketiga tua
ü Ngah : panggilan terhadap anak tengah , baik yang kedua ataupun yang lain tetapi bukan panggilan anak yang paling kecil.
ü Uda : menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak yang paling muda ataupun nomor pertama muda.
ü Yak: Panggilan untuk anak yang paling muda nomor dua.
ü Icu : menjadi kebiasaan panggilan anak yang paling kecil atau bungsu.
ü Utih : orang yang berkulit putih.
ü Itam : orang yang berkulit hitam.
ü Njang atau anjang : Panggilan untuk orang yang tinggi   
ü Unggal: Panggilan untuk anak tunggal
ü Ndut: Panggilang untuk orang gendut
Dari berbagai banyak panggilan yang beragam karena menurut orang melayu adalah :
a. Sebagai penghormatan
b. Jujur dari panggilan mereka
c. Mudah untuk dihafal
d. Tanda kasih sayang keluarga
e. Sebagai lambing tradisi
f. Pembeda antara sanak saudara






BAB 1V
PENUTUP
Kesimpulan
·      Masyarakat Melayu (Kapuas Hulu) sangat mengutamakan perilaku yang sopan, ramah, serta selalu menggunakan tutur bahasa yang halus. Masyarakat Kapuas Hulu menjunjung tinggi asas kekeluargaan, terlihat dari segi bermasyarakat yang damai, suka bergotong royong. Melayu (Kapuas Hulu) banyak bermukim dipesisiran sungai Kapuas, sehingga masyarakatnya banyak yang  bermata pencaharian sebagai nelayan. Melayu di Kapuas Hulu   mirip dengan suku dayak,  hanya saja orang melayu tidak makan, makanan yang diharamkan menurut ajaran islam.
·      Bentuk-bentuk budaya Kapuas hulu seperti : Tepung Tawar, Tumbang Apam, Buang-buang, dan upacara tahlilan (upacara kematian)
·      Bahasa utama di Kapuas Hulu adalah bahasa Melayu. Bahasa ini menjadi linguafranca di kota pusat-pusat administrasi pemerintah dan perdagangan. Bahasa Melayu juga digunakan ruang-ruang semi formal, sedangkan di ruang formal digunakan bahasa Indonesia.
·      Keunikan seni budaya masyarakat Melayu yang tumbuh dan berkembang secara tradisional yang mempunyai karakteristik tersendiri yang masih bersifat alami, namun di sisi lain adanya beberapa nilai tertentu yang mengalami kondisi krisis akibat pengaruh arus globalisasi dan budaya asing tetapi tidak mengurangi dari norma-norma adat istiadat budaya kedua etnis tersebut contohnya seperti tari belangkah.
·      Proses perkawinan yang paling awal dari masyarakat kami adalah proses siapa jodoh yang cocok untuk dirinya, mulai dari merisik, tunangan, besurung, begantung, ijab Kabul (akad nikah), hari berlangsung, penetesan air mawar dan mandi selamat.
·      Kekerabatan atau sanak saudara adalah unut-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memmiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan.
·      Sistem kekerabatan pada masyarakat melayu di kelimatan barat pada umumnya menganut sistem bilinal atau bilateral yaitu mengambil garis keturunan dari ayah dan ibu.  Dari segi kekerabatan masyarakat melayu dibagi kepada dua kelompok : a) Menerapkan sistem kekerabatan nasab ayah (patrilineal). b) Menerapkan sistem kekerabatan nasab ibu (matrilineal). Panggilan- panggilan umum dalam kekerabatan orang melayu Pak Long dan Mak Long, Pak Anjang dan Mak Anjang, Pak Ngah dan Mak Ngah Pak Itam dan Mak Itam, Pak Utih dan Mak Utih, Pak Cik dan Mak Cik, Pak Uda dan Mak Uda, Pak Usu dan Mak Usu, Pak Unggal dan Mak Unggal. Dari berbagai banyak panggilan yang beragam karena menurut orang melayu adalah : Sebagai penghormatan, jujur dari panggilan mereka, mudah untuk dihafal, tanda kasih sayang keluarga, sebagai lambing tradisi, pembeda antara sanak saudara.

Saran
Demi kesempurnaan makalah ini diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dan memberikan manfaat kepada penulis dengan sebagaimana mestinya. Atas kritik dan saran yang diberikan, penulis ucapkan terima kasih.









DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Melayu (diakses pada 29 November 2015)
(diakses pada 29 November 2015)