TUGAS
MAKALAH SOSIOLOGI
“
BENTUK-BENTUK DAN SUSUNAN KEMASYARAKATAN SUKU MELAYU KAPUAS HULU”
Dosen: Sahata Simamora, SH, MH
Nama: Wahyu Israniar
NIM: A1011151026
KELAS: A
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T atas
limpahan rahmat dan hidayah-Nya, yang telah memberikan
anugrah, kesempatan dan pemikiran kepada penulis untuk dapat menyelesaikan
makalah ini. Makalah ini membahas tentang BENTUK-BENTUK
DAN SUSUNANAN KEMASYARAKATAN SUKU MELAYU KAPUAS HULU. Penulisan makalah ini
untuk memenuhi tugas Sosiologi dalam pembahasan BENTUK-BENTUK DAN SUSUNANAN KEMASYARAKATAN SUKU MELAYU KAPUAS HULU
yang guna
memperdalam ilmu dan untuk memperoleh nilai tugas pada mata kuliah ini.
Penulisan makalah ini penulis susun dengan maksimal
dengan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat mempelancar pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis
menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesemurnaan makalah
ini. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa khususnya dan
masyarakat pada umumnya.
Pontianak,
November 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar……………………………………………......……………………….i Daftar
Isi……………………………………………………..…...…………………..ii BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...……………………….…..........……………………………......1
1.2 Rumusan Masalah………..…...….……...……….…….………………..….…...2
1.3 Tujuan………..…..………………………………...……………………..……....2 1.4
Manfaat………………...……………………………………..…………..………3
BAB II Kerangka Teori
A. Pengertian Kebudayaan……………………...…...…….………………….…...…4 a.
Unsur-unsur Budaya…………… ………...….. …………………..............………5 b. Ciri-ciri
Budaya……………...…………………...….………………….…………8
B. Suku Melayu……...………………….….………………………....…………….10
C. Sejarah Singkat Asal-Usul Melayu Datang Ke Indonesia….…….…...……...…11
a. Melayu Tua ( Proto Melayu)………………………...…………..…..…..………..12
b. Melayu Muda (Deutro Melayu)…...………………….……..……..……..………13
D. Sejarah Singkat Asal-Usul Melayu Datang Ke Kalimantan
Barat………….….15
BAB III PEMBAHASAN
A. Bentuk-bentuk dan Susunan Kebudayaan Suku Melayu Kapuas
Hulu.….……...18 a. Melayu Kapuas Hulu…...…………………………………..…..…………...…18
b. Sejarah Islam Masuk Ke Kapuas Hulu……………………………...…………...19
c. Geografi dan Demografi Suku Melayu Kapuas Hulu…..…..….…………...…23
d. Bentuk Budaya Kapuas Hulu.……..………………...……...…………………….24 i.
Tepung Tawar……………………………………………………………………24 ii.Tumbang Apam…………………………..………………………………….….27
iii. Buang-buang…...……………………………………………………….….….28 iv.Upacara Adat Kematian………….………………………..…………….…....…28
e. Bahasa Melayu Kapuas Hulu………...…...….……...………….....…...….…….29
f. Kesenian...…….………………………...………………………........…………30 g. Pernikahan…………………….…………........…………...…...……….……...31 h. Panggilan-panggilan Umum dalam Kekerabatan
Orang Melayu Kapuas Hulu....35
BAB IV PENUTUP Kesimpulan…………………………………………………………………………37
Saran………………………………………………………………………………..38DAFTAR PUSTAKA………...……….…………………………………………………....39
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kebudayaan merupakan suatu kekayaan yang
sangat bernilai, karena selain meruapakan ciri khas dari suatu daerah juga
menjadi lambang dari kepribadian suatu bangsa atau daerah.
Disetiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda pula oleh
karena itu manusia dan kebudayaan adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan
karena dimana kita tinggal disitu pula terdapat kebudayaan. Indonesia
memiliki jenis kebudayaan yang beragam. Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa,
karsa manusia yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia. Macam – macam
kebudayaan, dari mulai kebudayaan sosial, politik, organisasi, dan budaya
masyarakat. Termasuk dalam hal in adalah masyarakat Melayu.
Melayu adalah rumpun bangsa
yang besar yang telah lama mendiami bumi ini, bangsa Melayu berasal dari Bani
Jawi (Arab), yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s dari istrinya yang bernama
Qanturah/Qatura/keturah. Bani Jawi ini telah berhijrah/berpindah dari tanah
Kanaan ke Timur melalui jalan darat dan laut. Hijrah yang melalui jalan laut di
ketuai oleh Raja Mus dan mendarat di Palembang. Sedangkan jalan darat
perpindahan melalui Tibet, bahkan Bangsa
Melayu pernah menduduki Tibet dan telah menamakan gunung yang tertinggi di
dunia dengan nama Himalaya yang dalam bahasa sansakerta berarti Gunung Melayu. Tanah Melayu dulu oleh orang Arab
disebut Tanah Jawi, keturunan rumpun Melayu tersebar luas di dunia ini dan
dibagi lagi kedalam beberapa suku dan ras. Kerajaan Melayu yang paling terkenal
dalam sejarah dunia sebelum kedatangan Islam adalah kerajaan Sriwijaya yang
mencapai masa keemasan apada abad ke-tujuh da ke-delapan Masehi dan runtuh pada
tahun 1377 Masehi. Di masa itu Agama Budha berkembang ke arah timur kerajaan
tersebut. Budi Dharma seorang Melayu, telah mengembara ke Cina dan Jepang serta
telah mengajarkan berbagai ilmu diantaranya adalah ilmu bela diri.
Beliau telah
membuka kuil Shorinji di Jepang (ada yang berpendapat bahwa Sorinji berasal
dari nama Serinding yaitu nama salah satu Silat Melayu yang terkenal di
Sriwijaya/Palembang).
Masyarakat melayu menjunjung tinggi asas
kekeluargaan, terlihat dari segi bermasyarakat yang damai, suka bergotong
royong. Masyarakat Melayu (Kapuas
Hulu) lebih banyak bermukim dipesisiran sungai kapuas, sehingga masyarakat Melayu
Kapuas Hulu banyak yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Masyarakat
Suku Melayu Kapuas Hulu masih memegang
keyakinan pada kepercayaan animisme dan ajaran-ajaran nenek moyang hal
ini karena pengaruh dari suku Dayak yang ada di Kapuas Hulu, akan tetapi
rata-rata suku melayu di Kapuas Hulu menganut agama islam.
1.2
Rumusan Masalah
Agar memperjelas tentang bentuk-bentuk dan susunan suku melayu
Kapuas hulu, maka merumuskan masalah sebagai berikut :
· Apa itu suku melayu ?
· Dari mana Asal-usul Suku Melayu ?
· Stratifikasi sosial seperti apa yang
ada di dalam kebudayaan Melayu Kapuas Hulu?
· Apa kepercayaan yang dianut mereka ?
· Bagaimana kebudayaan masyarakat
melayu Kapuas Hulu ?
· Apa mata pecaharian masyarakat Melayu
di Kapuas Hulu ?
1.3
Tujuan
Tujuan penulisan makalah
ini adalah :
·
Untuk
menuntaskan tugas mata kuliah Sosiologi yang menjadi salah satu syarat
kelulusan dalam proses pembelajaran.
·
Menjaga
kemurnian suku melayu
·
Mengetahui
bagaimana suku melayu dikapuas hulu sebenarnya
·
Memberi
pengetahuan kepada pembaca mengenai pengertian melayu agar tidak mengetahui
arti melayu itu hanya sebatas suku atau ras saja.
·
Memberi
pengetahuan mengenai Asal- Usul Suku Melayu.
·
Sebagai pembelajaran kami tentang kebudayaan Indonesia
khususnya Budaya Melayu.
·
Dapat memahami bagaimana sistem kebudayaan Melayu.
1.4
Manfaat
Adapun manfaat penulisan makalah ini
adalah :
Agar kita bisa mengetahui bagaimana
suku melayu di Kapuas Hulu, serta agar kita bisa menjaga budaya Melayu dengan
baik agar tidak diambil cap milik oleh negara asing.
BAB II
KERANGKA TEORI
A.
Pengertian
Kebudayaaan
Istilah
kebudayaan merupakan terjemahan
dari istilah culture dalam bahasa inggris. Kata culture berasal
dari bahasa latin colore yang berarti mengolah, mengerjakan, menunjuk
pada pengolahan tanah, perawatan, dan pengembangkan tanaman dan tanah inilah
yang selanjutnya dipahami sebagai culture. Sementara itu, kata budaya
berasal dari bahasa sanskerta, buddhayah yang merupakan bentuk jamak
dari kata buddhi. Kata buddhi berarti budi dan akal. Kamus besar
bahasa indonesia mengartikan kebudayaan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan
batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Kebudayaan merupakan salah satu buah pikiran baik berupa
benda maupun tindakan yang mana senantiasa perlu kita lestarikan guna menjaga
sejarah yang telah ada.
Di
bawah ini akan dikutip beberapa pendapat para ahli tetang definisi kebudayaan
sebagai berikut:
1. E.B.
Tylor seperti dikutip oleh Soerjono Soekanto (1989)
mendefinisikan kebudayaan sebagai segala hal yang mencakup pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, kebiasaan, serta kemampuan-kemampuan
lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2. Koentjaraningrat
(1985) kebudayaan adalah keseluruhan ide-ide, tindakan, dan hasil
karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri
manusia dengan belajar
3. Selo
Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964) menurut mereka kebudayaan adalah semua hasil
karya, rasa, dan cipta manusia. Bila disimak lebih seksama, definisi Selo
Soemardjan dan Soelaeman lebih menekankan pada aspek hasil materia
dari kebudayaan.
4. Koentjaraningrat menekankan dua aspek
kebudayaan yaitu abstrak (nonmaterial) dan konkret (material). Pada definisi
Koentjaraningrat, tampak bahwa kebudayaan merupakan suatu proses hubungan
manusia dengan alam dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmaniah
maupun rohaniah. Dalam proses tersebut manusia berusaha mengatasi permasalahan
dan tantangan yang ada di hadapannya.
Pengertian Kebudayaan secara umum adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni,
susila, hukum adat dan setiap kecakapan, dan kebiasaan. Budaya adalah suatu
pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak
aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosial-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan
sosial manusia. Budaya merupakan simbol peradaban. Apabila sebuah budaya luntur
dan tidak lagi dipedulikan oleh sebuah bangsa, maka peradaban bangsa tersebut
tinggal menunggu waktu untuk punah.
a. Unsur-Unsur
Budaya
Unsur-unsur kebudayaan digolongkan kepada unsur besar dan unsur kecil
yang lazimnya disebut dengan istilah
culture universal karena disetiap penjuru dunia manapun kebudayaan tersebut
dapat ditemukan, seperti pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Beberapa
dari orang yang sarjana telah mencoba merumuskan unsur-unsur pokok kebudayaan,
seperti Bronislaw Malinowski dan C. Kluckhoh.
·
Bronislaw
Malinowski
Bronislaw Malinowski menyatakan bahwa ada empat
unsur pokok kebudayaan yang meliputi sebagai berikut:
ü Sistem norma-norma yang memungkinkan
kerja sama antaranggota masyarakat agar menyesuaikan dengan alam
sekelilingnya.
ü Organisasi ekonomi
ü Alat dan lembaga atau petugas untuk pendidikan
(Keluarga adalah lembaga pendidikan utama).
ü Organisasi kekuatan (Politik)
·
C.
Kliucckhohn
C. Kliucckhohn menyebutkan ada tujuh unsur
kebudayaan, yaitu sistem mata pencaharian hidup; sistem peralatan dan
teknologi; sistem organisasi kemasyarakatan; sistem pengetahuan; bahasa;
kesenian; sistem religi dan upacara keagamaan.
· Herskovits
Herskovits memandang bahwa kebudayaan merupakan
sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain
yang kemudian disebut sebagai superorganik.
· Andreas Eppink
Kebudayaan
mengandung bentuk dari keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu
pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain
tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas
suatu masyarakat.
·
Edward
Burnett Tylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan
dari yang kompleks yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang
didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sifat hakikat kebudayaan adalah
ciri-ciri khusus dari sebuah kebudayaan yang masing-masing masyarakat yang berbeda. Pada
masyarakat barat makan sambil berjalan, bahkan setengah berlari adalah hal yang
biasa karena bagi mereka the time is money. Hal ini jelas berbeda dengan
masyarakat timur. Jangankan makan sambil berjalan, bahkan makan berdiri saja
sudah melanggar etika. Walaupun demikian, secara garis besar, seluruh
kebudayaan yang ada di dunia ini memiliki sifat-sifat hakikat yang sama.
Sifat-sifat hakikat kebudayaan sebagai berikut :
· Kebudayaan terwujud dan tersalurkan
lewat perilaku manusia.
· Kebudayaan telah ada terlebih dahulu
mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya
usia generasi yang bersangkutan.
· Kebudayaan diperlukan oleh manusia
dan diwujudkan tingkah lakunya.
· Kebudayaan mencakup aturan-aturan
yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan
ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang, dan tindakan-tindakan yang
diizinkan.
Semua
kebudayaan senantiasa bergerak karena ia dinamis karena sebenarnya gerak
kebudayaan adalah gerak manusia itu sendiri. Gerak atau dinamika manusia sesama
manusia, atau dari satu daerah kebudayaan daerah lain, baik disengaja maupun
tidak disengaja, seperti migrasi atau pengungsian dengan sebab-sebab tertentu.
Dinamika dalam membawa kebudayaan dari suatu masyarakat ke masyarakat lain yang
menyebabkan terjadinya akulturasi.
Proses akulturasi kebudayaan dalam sejarah umat
manusia telah terjadi pada umat atau bangsa-bangsa terdahulu. Dimana Adakalanya
kebudayaan yang dibawa dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat setempat dan
adakalanya ditolak, parahnya ada juga sekelompok individu yang tetap tidak
menerima kebudayaan asing walaupun mayoritas kelompok individu di sekelilingnya
sudah menjadikan kebudayaan tersebut bagian dari kebudayaannya.
Pada umumnya, unsur-unsur kebudayaan asing yang
mudah diterima adalah sebagai berikut :
·
Unsur
kebudayaan kebendaan, seperti alat-peralatan yang terutama sangat mudah dipakai
dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya, contohnya
adalah pada alat tulis menulis yang banyak dipergunakan orang Indonesia yang diambil
dari unsur-unsur kebudayaan barat.
·
Unsur-unsur
yang terbukti membawa manfaat besar misalnya radio transistor yang banyak
membawa kegunaan terutama sebagai alat mass-media.
·
Unsur-unsur
yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima
unsur-unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi dengan biaya murah serta
pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk melengkapi
pabrik-pabrik penggilingan.
Unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh
suatu masyarakat adalah sebagai berikut :
ü Unsur yang menyangkut sistem
kepercayaan, seperti ideologi, falsafah hidup, dan lainnya
ü Unsur-unsur yang dipelajari pada
taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang sangat mudah adalah soal makanan
pokok suatu masyarakat. Nasi merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat
indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok lainnya.
b.
Ciri-Ciri Kebudayaan
Ciri-ciri
kebudayaan tersebut adalah senantiasa berubah, tingkah laku yang dipalajari,
pola tingkah laku yang dipelajari, hasil dari tingkahlaku orang yang
dipelajari, dibagi oleh anggota masyarakat, dan dialihkan oleh para anggota.
1.
Senantiasa
berubah
Kebudayaan
itu bersifat dinamis, selalu berubah sesuai dengan perkembangan situasi atau zaman yang
membingkainya.
2.
Tingkahlaku
yang dipelajari
Kebudayaan
sangat mempengaruhi pembentukan manusia.Anggota masyarakat terus melakukan proses belajar, misalnya dari orang
tua, teman, lingkungan sekolah, lembaga keagamaan, dan sebagainya.
3.
Pola tingkah laku yang dipelajari
Bahwa
tingkah laku yang dipelajari mempunyai hubungan di antara unsur-unsur pola
tersebut.
4. Hasil dari tingkah laku yang dipelajari
Ide dari
seseorang merupakan hasil dari apa yang ia pelajari orang atau kelompok yang
lain. Ada tiga wujud hasil kebudayaan yang dipalajari, yaitu menyangkut
nilai-nilai, gagasan-gagasan, norma dan sebagainya; kompleks tindakan-tindakan
berpola; dan pengetahuan untuk menghasilkan benda-benda hasil karya manusia.
5. Dibagi oleh anggota masyarakat
Tingkah laku
yang dipelajari itu hasil-hasilnya tidak milik seseorang atau kelompok
tertentu. Ia merupakan milik masyarakat secara menyeluruh. Nilai dan sikap itu
dipelajari dari masyarakat.
6. Dialihkan para anggota
Tingkah laku yang dipelajari dialihkan
atau ditularkan dari satu generasi berikutnya melalui bermacam-macam cara,
misalnya melalui tulisan di tembok atau prasasti, dan sebagainya.
B.
Suku
Melayu
Menurut
Koentjaraningrat, suku bangsa berarti sekelompok manusia yang memiliki kesatuan
budaya dan terikat oleh kesadaran dan identitas tersebut. Kesadaran dan
identitas biasanya dikuatkan oleh kesatuan bahasa.
Suku
bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari golongan-golongan sosial lainnya,
karena mempunyai ciri-ciri yang paling mendasar dan umum yang berkaitan dengan
asal-usul, tempat asal, serta kebudayaannya. Suku bangsa merupakan suatu
golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan
kebudayaan. Suku bangsa merupakan gabungan sosial yang dibedakan dari
golongan-golongan sosial karena mempunyai ciri-ciri paling mendasar dan umum
berkaitan dengan asal usul dan tempat asal serta kebudayaan.
Sedangkan pengertian Melayu adalah Suku Melayu (bahasa
Malaysia: Melayu
Jawi: ملايو) adalah sebuah
kelompok etnis dari orang-orang Austronesia
terutama yang menghuni Semenanjung Malaya, Sumatra bagian
timur, bagian selatan Thailand, pantai selatan Burma, pulau Singapura, Borneo pesisir
termasuk Brunei,
Kalimantan Barat, dan Sarawak dan Sabah pesisir, dan
pulau-pulau kecil yang terletak antara lokasi ini yang secara kolektif dikenal
sebagai Alam Melayu. Lokasi ini
sekarang merupakan bagian dari negara modern Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Burma dan Thailand. Meskipun
begitu, banyak pula masyarakat Minangkabau,
Mandailing,
dan Dayak
yang berpindah ke wilayah pesisir timur Sumatra dan pantai barat Kalimantan,
mengaku sebagai orang Melayu. Selain di Nusantara, suku Melayu juga terdapat di
Sri Lanka,
Kepulauan Cocos (Keeling) (Cocos
Malays), dan Afrika Selatan (Cape Malays).
Nama "Malayu" berasal
dari Kerajaan Malayu yang pernah ada di kawasan Sungai Batang
Hari, Jambi.
Dalam perkembangannya, Kerajaan Melayu akhirnya takluk dan menjadi bawahan Kerajaan Sriwijaya. Pemakaian istilah Melayu pun meluas hingga ke
luar Sumatera, mengikuti teritorial imperium Sriwijaya yang berkembang hingga
ke Jawa, Kalimantan,
dan Semenanjung Malaya. Jadi orang Melayu
Semenanjung berasal dari Sumatera.
Pengertian
melayu menurut pengertian suku bangsa lebih berdasarkan etnis, walupun begitu
syarat bangsa melayu dan kebudayaan melayu masih diperlukan, tetapi tidaklah
semestinya beragama islam. Berdasarkan ini orang-orang melayu adalah :
1. Orang-orang melayu yang mendiami kawasan Thai,
pesisir Sumatra (utara medan, deli, sedang, Palembang, riau lingga)
2. Ada yang beragama budha dan Kristen
3. Orang-orang melayu di Brunai dan Sabah
Pengertian melayu berdasarkan Ras, yaitu
menerangkan penduduk seluruh Nusantara berdasarkan kajian Geldara dan Kern.
Mereka berasal dari satu kelompok bangsa kemudian terebar keseluruh nusantara.
pengertian mengikut ras ini lebih bertumpu kepada suatu rumpun bangsa yang
besar berkaitan.
C.
Sejarah
Singkat Asal-usul Rumpun Melayu Datang Ke Indonesia
Orang-orang
Austronesia yang memasuki wilayah Nusantara dan kemudian menetap di Nusantara
tersebut mendapat sebutan bangsa Melayu Austronesia atau bangsa Melayu
Indonesia. Mereka yang masuk ke daerah Aceh menjadi suku Aceh, yang masuk ke
daerah Kalimantan disebut suku Dayak, yang ke Jawa Barat disebut suku Sunda,
yang masuk ke Sulawesi disebut suku Bugis dan Tanah Toraja, dan mereka yang
masuk ke daerah Jambi disebut suku Kubu (Lubu).
Menurut
Teori Antropologi, Bangsa Melayu berasal dari percampuran dua bangsa, yaitu
Proto Melayu dan Deutero Melayu. Proto Melayu adalah ras Mongoloid,
diperkirakan bermigrasi ke Nusantara sekitar tahun 2500-1500 SM, kemungkinan
mereka berasal dari daerah : Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau
Kepulauan Taiwan. Sementara Bangsa Deutero Melayu berasal dari dataran Asia
Tengah dan Selatan, yang datang ke Nusantara pada sekitar tahun 300 SM.
Diperkirakan kedatangan Deutero Melayu membawa pengaruh budaya India yang kuat
dalam sejarah Nusantara dan Asia Tenggara.
a.
Melayu Tua (Proto Melayu)
Bangsa
Melayu Tua ini memasuki wilayah Indonesia sekitar tahun 1.500 hingga 500 SM.
Mereka masuk melalui dua rute: jalan barat dan jalan timur. Jalan barat adalah
melalui Semenanjung Melayu kemudian terus ke Sumatera dan selanjutnya menyebar
ke seluruh Indonesia. Sementara jalan timur adalah melalui Kepulauan Filipina
terus ke Sulawesi dan kemudian tersebar ke seluruh Indonesia. Para ahli
memperkirakan bahwa bangsa Melayu Tua ini peradabannya satu tingkat lebih
tinggi dibandingkan dengan manusia purba yang ada di Indonesia. Orang-orang
Melayu Tua ini berkebudayaan Batu Muda (Neolitikum). Benda-benda buatan mereka
masih menggunakan batu namun telah sangat halus. Kebudayaan kapak persegi
dibawa bangsa Proto Melayu melalui jalan barat, sedangkan kebudayaan kapak
lonjong melalui jalan timur. Sebagian dari mereka ada yang bercampur dengan ras
kulit hitam.
Pada
perkembangan selanjutnya, mereka terdesak ke arah timur karena kedatangan
bangsa Melayu Muda. Keturunan Proto Melayu ini sampai kini masih berdiam di
Indonesia bagian timur, seperti di Dayak, Toraja, Mentawai, Nias, dan Papua.
Sementara itu, bangsa kulit hitam (Ras Negrito) yang tidak mau bercampur dengan
bangsa Proto Melayu lalu berpindah ke pedalaman atau pulau terpencil agar
terhindar dari pertemuan dengan suku atau bangsa lain yang mereka anggap
sebagai “peganggu”. Keturunan mereka hingga kini masih dapat dilihat meski
populasinya sedikit, antara lain orang Sakai di Siak, orang Kubu di Palembang,
dan orang Semang di Malaka.
b.
Melayu Muda (Deutro Melayu)
Bangsa
Melayu Muda memasuki kawasan Indonesia sekitar 500 SM secara bergelombang.
Mereka masuk melalui jalur barat, yaitu melalui daerah Semenanjung Melayu terus
ke Sumatera dan tersebar ke wilayah Indonesia yang lain. Kebudayaan mereka
lebih maju daripada bangsa Proto Melayu. Mereka telah pandai membuat
benda-benda logam (perunggu). Kepandaian ini lalu berkembang menjadi membuat
besi. Kebudayaan Melayu Muda ini sering disebut kebudayaan Dong Son. Nama Dong
Son ini disesuaikan dengan nama daerah di sekitar Teluk Tonkin (Vietnam) yang
banyak ditemukan benda-benda peninggalan dari logam. Daerah Dong Son ini
ditafsir sebagai tempat asal bangsa Melayu Muda sebelum pergi menuju Indonesia.
Hasil-hasil kebudayaan perunggu yang ditemukan di Indonesia di antaranya adalah
kapak corong (kapak sepatu), nekara, dan bejana perunggu.
Benda-benda
logam ini umumnya terbuat dari tuangan (cetakan). Keturunan bangsa Deutro
Melayu ini selanjutnya berkembang menjadi suku-suku tersendiri, misalnya
Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Minang, dan lain-lain. Kern menyimpulkan hasil
penelitian bahasa yang tersebar di Nusantara adalah serumpun karena berasal
dari bahasa Austronesia Perbedaan bahasa yang terjadi di daerah-daerah
Nusantara seperti bahasa Jawa, Sunda, Madura, Aceh, Batak, Minangkabau, dan
lain-lainnya, merupakan akibat dari keadaan alam Indonesia sendiri yang
dipisahkan oleh laut dan selat. Di samping dipisahkan oleh selat dan samudera,
perbedaan bahasa pun disebabkan karena setiap pulau di Indonesia memiliki
karakteristik alam yang berbeda-beda. Semula bahasa bangsa Deutro Melayu ini
sama, namun setelah menetap di tempat masing-masing mereka pun mengembangkan
bahasa tersendiri. Kosakata yang dulu dipakai dan masih diingat tetap
digunakan, sedangkan untuk menamai benda-benda yang baru dilihat di tempat
tinggal yang baru (Indonesia) mereka membuat kata-kata mereka sendiri. Jadi,
jangan heran, bila ada sejumlah kata yang terkadang sama bunyinya di antara dua
suku namun memiliki arti yang berbeda sama sekali, tak ada hubungan. Ada pula
kata yang memiliki arti yang masih berhubungan meski tak identik, seperti kata
“awak”. Kata awak bagi orang Minang berarti “saya”, sedangkan menurut orang
Sunda berarti “badan”.
Selanjutnya,
bangsa Melayu Muda inilah yang berhasil mengembangkan peradaban dan kebudayaan
yang lebih maju daripada bangsa Proto Melayu dan bangsa Negrito yang menjadi
penduduk di pedalaman. Hingga sekarang keturunan bangsa Proto Melayu dan
Negrito masih bermasyarakat secara sederhana, mengikuti pola moyang mereka, dan
kurang bersentuhan dengan budaya luar seperti India, Islam, dan Eropa.
Sedangkan bangsa Deutero Melayu mampu berasimilasi dengan kebudayaan Hindu-
Budha, Islam, dan Barat.
D.
Sejarah
Singkat Asal-usul Rumpun Melayu Datang Ke Kalimantan Barat
Menurut
Teori Antropologi, Bangsa Melayu berasal dari percampuran dua bangsa, yaitu
Proto Melayu dan Deutero Melayu. Proto Melayu adalah ras Mongoloid,
diperkirakan bermigrasi ke Nusantara sekitar tahun 2500-1500 SM, kemungkinan
mereka berasal dari daerah : Provinsi Yunnan di selatan Cina, New Guinea atau
Kepulauan Taiwan. Sementara Bangsa Deutero Melayu berasal dari dataran Asia
Tengah dan Selatan, yang datang ke Nusantara pada sekitar tahun 300 SM.
Diperkirakan kedatangan Deutero Melayu membawa pengaruh budaya India yang kuat
dalam sejarah Nusantara dan Asia Tenggara. (Ahmad Samantho ).
Ketika bangsa asing
datang di negeri bernama Nusantara ini mereka menyebutnya ras melayu. Hal itu
disebabkan oleh penggunaan bahasa melayu sebagai bahasa pengantar (lingua
franca) dan berbudaya melayu yaitu kain kuning, telok belanga; sarong dan
rempah jenis makanannya yang sama. Secara antropologis bangsa melayu
penyebarannya "hampir' diseluruh wilayah Nusantara. Istilah deutro dan
potro melayu adalah dua hal yg berbeda karena
kedatangan bangsa-bangsa tersebut dari Yunan (India belakang) ribuan
tahun silam sebelum zaman gletser yang diperkirakan 3.500 tahun SM.
Penemuan terbaru adanya
bukti orang-orang Negrito, nenek moyang bangsa Aborigin dan Melanesia pernah
menghuni gua-gua di Borneo, pada 50.000 tahun yang lalu, tidak menutup
kemungkinan adanya perkawinan silang sehingga terjadi percampuran semenjak
puluhan ribu tahun yang lalu.
Menurut Raden Kesuma
Sambas (Nama Facebook), Suku Melayu di Kalbar ini adalah campuran (asmilasi)
Dayak dan Melayu. Orang Melayu datang dari Sumatera ke pulau ini sekitar abad
ke-5 M hingga 7 M dan kemudian berasimilasi dengan Orang Dayak Iban di pesisir pulau
ini lalu menghasilkan masyarakat baru dipesisir (pada saat itu seluruh
Sungai-sungai di pulau ini di diami oleh Orang -Orang Dayak sedangkan sebelum
kedatang Orang Dayak dari Kamboja, pulau ini dihuni oleh Orang Negrito yang
juga berasimilasi dengan Orang Dayak di pulau ini yaitu asimilasi Melayu-Dayak
itulah yang menghasil generasi pertama Suku Melayu di Kalimantan Barat yaitu
Melayu Sambas (Sungai Sambas) dan Melayu Ketapang (Sungai Pawan). Saat ini
percampuran terus terjadi sebagai contoh yang sekarang disebut Orang Melayu
Sambas itu adalah campuran (mix asimilasi) secara nasab (garis bapak) dari
Melayu, Dayak, Bugis dan Jawa (Orang Cina banyak di wilayah Sambas tetapi masih
eksklusif, kalau pun ada asimilasi, jumlahnya masih tidak signifikan).
Penyebaran sub Melayu di Kalimantan Barat yang dapat dijabarkan pada
pembagian berdasarkan 2 (dua) kelompok asal-usul (Purba, Juniar
dkk,2011:106-108) yaitu :
1.
Melayu Asli (Indegenous Malays),yaitu kelompok
Melayu yang telah sangat lama bermukim di Kalimantan Barat (Melayu
pribumi/Melayu setempat/Melayu asli) bahkan dimulai dari Melayu lama (Proto
Melayu) berdasarkan geografis, penyebaran fisik,karakter kelompok dan dialek
setempat yang digunakan.Atas dasar empat kriteria tersebut,kelompok Melayu Asli
(Indegenous Malays) dapat dibagi kedalam 4 (empat) kategori dan terbagi atas
sub pengelompokan yaitu:
§ Melayu Pesisir (bermukim di kawasan
tepi pantai,laut,sungai, terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu
Sambas, sub Melayu Mempawah, sub Melayu Kubu Raya dan sub Melayu Pontianak.
Khusus diKalimantan Barat, kelompok Melayu ini mayoritas tersebar dikawasan
pesisir dan mereka merupakan kelompok yang telah lama bermukim didaerah ini. Bahkan
secara umum masyarakat ini dikenal sebagai salah satu penduduk asli Propinsi
Kalimantan Barat selain masyarakat Dayak yang lebih banyak tinggal dipedalaman
di wilayah Kalimantan Barat. Sehingga kelompok Melayu ini menghasilkan karakter
khas yang bersifat 17 elative lebih tenang dan lebih dapat menyesuaikan diri
dengan lingkungan alam.
§ Melayu dari kawasan pedalaman dekat,
terbagi atas sub pengelompokan meliputi: sub Mempawah Hulu, sub Melayu
Bengkayang, sub Melayu Landak, sub Melayu Sanggau.
§ Melayu dari kawasan pedalaman jauh,
terbagi atas sub pengelompokan meliputi: sub Melayu Tayan,sub Melayu Sekadau,
sub Melayu Melawi,sub Melayu Sintang, sub Melayu Kapuas Hulu.
§ Melayu dari kawasan peralihan pada
dua kawasan pedalaman, terbagi atas sub pengelompokan meliputi : sub Melayu
Kayong Utara, sub Melayu Ketapang.
2. Melayu Kontemporer
(Contemporary Malays) yaitu kelompok pendatang yang berasal dari berbagai
kawasan Melayu diluar Kalimantan Barat diantaranya :
§ Daratan Sumatera seperti
Palembang,Bengkulu,Sumatera bagian timur (Bangka Belitung, Medan dan
sekitarnya, Jambi, Riau Daratan), Riau Kepulauan (Kepulauan Natuna,
Tanjungpinang dan Batam sekitarnya).
§ Daratan Kalimantan seperti Kaltim,
Kalsel.
§ Malaysia (Semenanjung/Malaysia Barat
dan Malaysia Timur seperti Sarawak dan Sabah.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Bentuk-bentuk dan Susunan Kebudayaan Suku Melayu
Kapuas Hulu
a.
Melayu Kapuas Hulu
Masyarakat melayu (Kapuas Hulu) terkenal dengan bermacam-macam
kebudayaan-nya, dilihat dari segi bahasa, perilaku masyarakat, adat istiadat,
seni, dan masih banyak lagi keanekaragaman budaya masyarakat melayu. Masyarakat Melayu
(Kapuas Hulu) sangat mengutamakan perilaku yang sopan, ramah, serta selalu
menggunakan tutur bahasa yang halus. Masyarakat Kapuas Hulu menjunjung tinggi
asas kekeluargaan, terlihat dari segi bermasyarakat yang damai, suka bergotong
royong. Melayu (Kapuas Hulu) banyak bermukim
dipesisiran sungai Kapuas, sehingga masyarakatnya banyak yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Melayu
di Kapuas Hulu mirip dengan suku dayak, hanya saja orang melayu tidak makan, makanan
yang diharamkan menurut ajaran islam.
Di Kapuas
Hulu juga banyak masyarakatnya suku asalnya dayak tapi telah jadi melayu. Kedatangan kaum pendatang atau kaum melayu
tersebut secara tidak langsung mendesak suku asli secara berangsur-angsur
semakin masuk ke pedalaman. Jadilah suku-suku bangsa pendatang seperti suku
bangsa Melayu sebagai penghuni tetap daerah yang ditinggalkan orang Dayak.
Mereka itu termasuk kelompok suku bangsa yang beragama Islam yang hidup dengan
caranya sendiri dan dengan kebudayaan serta kepercayaan yang dibawa dari tanah
asalnya. Mereka tidak mau hidup dengan tata cara penduduk asli. Sebaliknya
mereka membangun beberapa pemukiman kecil dihulu sungai sungai besar. Lama
kelamaan secara tidak disadari penduduk asli pun banyak yang terpengaruh dengan
cara hidup kaum pendatang. Mereka mulai ikut serta memeluk agama Islam. Proses
ini dikenal dengan istilah masok melayu atau turun melayu. Jika mereka ditanya,
pada umumnya akan menjawab bahwa mereka bukan suku Dayak. Mereka justru mengaku
sebagai Melayu “Sejati”, karena Melayu itu identik dengan kemajuan sosial.
Salato dalam bukunya Hornbill dan Dragon, mengatakan bahwa hampir 90 % dari
seluruh suku Melayu adalah orang Dayak yang sudah masuk agama Islam. Masuknya
suku pendatang khususnya Melayu, tidak hanya menuju ke satu tempat saja
melainkan hampir diseluruh pesisir Kalimantan.
Hal ini membuat mereka besar jumlahnya, namun
menurut kenyataan jumlah mereka lebih kecil dibandingkan dengan jumlah suku
Dayak. Untuk itu, untuk membedakan suku Dayak dengan suku Melayu yaitu dengan
melihat cara mereka berpakaian. Wanita Melayu cenderung memakai kerudung mendiami
rumah keluarga yang bertiang. Dibeberapa tempat terutama di sepanjang tepi
sungai kebanyakan mereka mendiami rumah apung yang sering disebut rumah
lanting. Dari tempat tinggal mereka dapat diketahui bahwa pada umumnya mereka hidup
sebagai nelayan dan berdagang. Perlu juga diketahui bahwa dengan masuknya suku
Melayu di Kapuas Hulu ini, berarti masuk pula agama Islam. Berikut sedikit
ulasan masukya agama Islam ke Kapuas Hulu.
b.
Sejarah Islam Masuk ke Kapuas Hulu
Islam
berkembang pesat di Kapuas Hulu, sejak tahun 150 tahun lalu agama samawi ini
diterima oleh penduduk setempat. Menjadi anutan mendampingi kepercayaan lama
yang mereka miliki. Jumlah penduduk Islam mencapai 56 persen dari jumlah
penduduk Kapuas Hulu, bahkan dialiran sungai umat islam di Kapuas Hulu mencapai
100 persen.
Van
Kessel asal orang Belanda, dia melewati ke Kapuas Hulu pertengahan abad ke-19
atau sekitar tahun 1840. Waktu itu dia melaporkan penduduk Selimbau, Embau,
Silat, dll (dalam wilayah Kapuas Hulu sekarang) sudah memeluk agama islam. Dia
hanya menyebutkan diperkirakan orang–orang disini masuk islam beberapa tahun
sebelum kedatangannya. Mereka beragama islam tetapi masih mengambalkan tradisi
lama seperti: buang-buang dan hukum adat sampai sekarang masih mengambalkan
semacam itu. Beberapa tahun lalu diperoleh data bahwa secara keseluruhan Kapuas
Hulu sebanyak 180 ribu jiwa. Dari jumlah itu 100 ribu beragama islam sisinya
56% beragama Katolik, Kristen dan Buddha. Islam tidak tersebar merata di Kapuas
Hulu, pada umumnya penduduk dipinggir sungai Kapuas beragama Islam. Mulai dari
Silat, Semitau, Selimbau, Jongkong, Bunut Hilir, Sampai Putussibau hampir semua
beragama islam. Dibeberapa anak sungai Kapuas minsalnya Silat, Embau dan Bunut
Hilir penduduk islam juga lebih banyak.
Di
Embau, islam dianut oleh 100 persen dari 20 ribu penduduk, di sepanjang sungai
Bunut Hilir, penduduk juga lebih banyak yang beragama Islam. Diperkirakan
mencapai 80 persen disungai Bunut Hilir
hanya ada 3 kampung kantuk yang terselit diantara kampung orang melayu. Ada
beberpa lagi kampung di Hulu sungai dan Dayak Suruk dibagian Hulu sungai Kelibang, banyak kampung disungai
Bunut Hilir yang memeluk agama islam. Islam dikawasan Embau khususnya Jongkong
memiliki citra tersendiri pada tahun 1950-an, islam disini Identik dengan Islam
yang taat dan alim. Sekolah yang ditanganinya menjadi tempat belajar
orang-orang yang ingin mendalami agama Islam secara formal. Bukan hanya di Embau
saja tetapi juga dari Putussibau, Badau dan Silat. Bahkan pada tahun 1970-an
pelajar sekolah agama disini datang dari Sintang dan Melawi. Sejak 50 tahun
terakhir Jongkong dianggap sebagai pusat islam di Kapuas Hulu.
o Tokoh-Tokoh Penyebaran Islam Kapuas Hulu
Tidak
diketahui siapa mubaligh dan guru agama yang terlibat dalam penyebaran agama
islam pada masa dulu. Cacatan yang diperlihatkan hanya menyebut beberapa nama
yang datang ke Embau pada abad ke-20. Menurut Mohd Malik (1985:48) yaitu Lebai
Cama sekitar (1913-1917), Haji Mustafa dari Banjar (1917-1918), Lebang, Dampung
dari Nanga Silat (1918-1919), Lebai Ngiril (1923-1928), Syeh Abdurrahman dari
Taif Madinah (1926-1932), Haji Abdul Hamid dari palembang (1932-1937), Muhtar
Zaini dari Padang Sumatra Barat
(1936-1940), Sulaiman dari Nanga Pinoh (1940-?), Haji Muhtar Idris dari Sumtra
Barat (1940-1948) dan Haji Ahmad asal Jongkong
(sekarang).
Para guru agama ini mengajarkan membaca Al-Qur’an,
Fiqih, dll dirumah dan dimasjid, khususnya mengenai pengajaran membaca
Al-Qur’an mereka menggunakan metode Baqdadiyah. Meteri Fiqih yang diajarkan
oleh Haji Abdul Malik Karui, sebagaimana yang diperoleh dari naskah tulisan
tangan memperlihatkan ajaran Fiqih yang Spesifik dalam pengertian
memperlihatkan pendekatan yang agak berbeda dengan pendekatan yang digunakan
sekarang ini.
o Pencitraan Islam Kapuas Hulu
Pada abad
ke-19 dan abad ke-20 saat Islam mencapai puncak perkembangan secarah kuantitas,
Melayu dianggap sebagai indentitas yang diterima secara meluas. Melayu berkaitan
dengan citra yang lebih tinggi, umpamanya citra kebangsawaan. Wilayah yang
bertahta di muara sungai adalah raja-raja Melayu, ada kebanggan jika seorang
rakyat jelata bisa masuk islam.
Citra yang
dibawa dari identitas Laut dan Barat adalah bahwa Laut melambangkan kemajuan
sedangkan Darat melambangkan ketertinggalan, jika dibandingkan sekarang adalah
citra antara kota dan kampung, sehingga lama-kelamaan pasti ada kesan minder di
kalangan orang Darat apa bila mereka mengunakan terminology ini. Untuk mencapai
citra ini, seseorang cukup masuk islam mengucapkan dua kalima syahadat, mandi
srotu, sunat bagi laki-laki, merubah nama
dan bahasa Melayu. Ucapan dua kalima syahadat, bisa dipelajari dengan
mudah karena lafaznya pendek, sedangkan mandi srotu harus mandik bercampurkan
dengan tanah yang keruh dan bersunat adalah memotong bagian kulup pada ujung
kemaluan laki-laki. Sunat ini ada sesuatu kewajiban, “pencitraan” terbatas,
karena besunat memberi penanda sebagai islam dan bukan islam. Sesungguhnya
beberapa kelompok pribumi yang bukan islam juga besunat.
Identitas
Dayak ketika itu membawa konotasi negatif dan bagi orang pribumi, sebutan Dayak
ketika itu dianggap melecehkan. Pribumi yang disebut sebagai Dayak merasa malu
ketika diidentifikasi sebagai Dayak. Identitas yang diberi orang ketika itu
tidak diterima. Menjadi islam Melayu tidak mengubah kepercayaan masyarakat
secara drastis. Kepercayaan lama, kepercayaan kepada yang ghaib tetap saja
dipakai masyarakat. Sekalian mereka sudah beragama Islam. Isu syirik yang
menduakan Allah, tidak cukup menonjolkan kalau tidak ada sama sekali pada masa
awal ini. Sejumlah kepercayaan Islam tetap diamankan masyarakat sebagai
“pegangan” mereka dalam menjalani kehidupan. Masyarakat perdalaman terminologi
Islam Melayu meskipun identitas tetapi tidak sama persis.
Ada
perbedaan antara Islam dan Melayu, Islam dianggap lebih taat dan lebih memiliki
pengetahuian agama yang luas dan
mengambalkan kebiasaan lama dll. Oleh sebab itu ketika mereka menjadi Melayu
mereka merasa nyaman karena tidak harus dibebankan dengan sejumlah kewajiban
yang kadang-kadang dirasakan cukup berat juga. Adakala identitas dari sumber
diterima langsung ada kalanya diterima melalui proses panjang. Identitas itu
dibentuk berdasarkan bahan agama, bahan budaya, bahan politik, bahan bahasa,
bahan keturunan, bahan sejarah, bahan geografi, dll. Tidak heran jika kemudian
seorang anak manusia pedalaman bisa diidentifikasi sebagai Ahmad. Ungal, Abang,
Urang Rian Panjang, Urang Ngkadan, Urang Embau, Urang Ulu, Urang Melayu, Urang
Senganan, Urang Laut, Urang Dayak Islam, dll. Mengaktifkan bentuk identitas ini
dilakukan berdasarkan pertimbangan pragmatis, sesuai situasi dan kondisi sosial.
c.
Geografi dan Demografi
Suku Melayu Kapuas Hulu
Kapuas Hulu, adalah kawasan yang merujuk pada tempat di hulu
Sungai Kapuas. Nama ini menjadi nama wilayah administrasi kabupaten (daerah) di
Hulu Sungai ini. Wilayah administrasi yang berada di bawah wilayah Kapuas Hulu
membentang dari Nanga Silat di bagian paling hilir yang berbatasan dengan Kabupaten
Sintang hingga ke wilayah Hulu Bungan, di bagian timur. Arah timur ini
berbatasan dengan Kalimantan Timur. Wilayah Kapuas Hulu ke arah selatan,
berbatasan dengan Kalimantan Tengah dan ke arah utara berbatasan dengan Lubuk
Antu, Sarawak, Malaysia. Ibu kota Kapuas Hulu
adalah Putussibau. Kota ini terdapat di tebing Sungai Kapuas dan persimpangan
(muara) Sungai Putus. Kota kecil di Kapuas Hulu adalah Jongkong, Nanga Tepuai,
Badau, Semitau, Selimbau, Bunut, Boyan Tanjung, dan beberapa lagi kota yang
sangat kecil.
Kapuas Hulu dapat dicapai dengan menggunakan angkutan sungai,
darat dan udara. Angkutan sungai adalah angkutan tradisional; satu-satunya
pilihan sebelum orang mengenal angkutan darat. Sungai Kapuas yang luas dan
cukup dalam memungkin perahu motor besar digunakan. Perjalanan dari Pontianak –
wilayah Kapuas Hulu, memerlukan masa 3-5 hari menggunakan motor air (bandung).
Motor bandung ini hanya dapat mengarungi Sungai Kapuas. Sedangkan untuk
melayani transportasi kampung-kampung yang terdapat di anak-anak sungai seperti
Sungai Silat, Batang Tawang, Sungai Embau, Batang Bunut, Embaloh, menggunakan
speedboat (perahu tempil). Angkutan darat digunakan
untuk menghubungi kota-kota utama Kapuas Hulu baru berlangsung belakangan ini,
sejak Jalan Lintas Selatan yang menghubungkan Putussibau – Sintang dibuka
pertengahan tahun 1990. Sedangkan jalur ke utara – Putussibau – Badau baru
terbuka sejak tahun 2000. Di jalur-jalur ini sudah pula beroperasi bus.
Angkutan udara ke Putussibau hanya dilayani dengan pesawat kecil berpenumpang
28 orang yang melayani trayek Putussibau – Sintang – Pontianak. Satu pekan ada
4 hari penerbangan, masing-masing satu satu penerbangan berangkat dan tiba.
Dari segi agama sebagian besar beragama Islam sekitar 80%
sedangkan 20% lagi beragama Katolik, Kristen dan sedikit Buddha. Penduduk di
wilayah selatan umumnya beragama Islam. Sepanjang Sungai Embau 100% penduduk
beragama Islam. Di kawasan Sungai Bunut jumlah pemeluk Islam mencapai hampir
90%. Begitu juga di sepanjang aliran Sungai Kapuas. Di wilayah utara umumnya
penduduk beragama Kristen atau Katolik.
Misalnya wilayah sepanjang Sungai Empanang 95% menganut Kristen
atau katolik. Dilihat dari segi etnisitas, penduduk
bagian selatan Sungai Kapuas kebanyakan adalah orang Melayu. Keadaan ini
senyampang dengan jumlah penduduk berdasarkan agama. Sedangkan penduduk di
utara Sungai Kapuas kebanyakan adalah Iban, Kantuk, Taman. Di bagian hulu
kebanyakan orang Taman, dibagian barat terdapat orang Suaid, Seberung, Nanga Silat.
d.
Bentuk Budaya Melayu Kapuas Hulu
i.
Upacara Tepung Tawar
Upacara adat
Tepung Tawar kini telah menjadi sebuah keharusan, menjadi sebuah trend dijaman
modern ini, tentunya kita melirik kembali tentang keberadaan upacara Tradisi
Tepung Tawar ini yang pada jaman dahulu seperti menjadi sebuah keharusan bagi
masyarakat yang melaksanakan sebuah upacara-upacara baik upacara di dalam
kehidupan rumah tangga maupun upacara bagi masyarakat pada umumnya. Upacara
tradisi Tepung Tawar umumnya bayak dilakukan oleh masyarakat Melayu dan Suku
Dayak akan tetapi pada masyarakat Melayu upacara tepung tawar yang dikenal pada
umumnya ada enam jenis yakni tepung tawar badan, tepung tawar peralatan, tepung
tawar rumah, tepung tawar tiga hari setelah orang dirumah meninggal, tepung
tawar pada ikan peliharaan, Tepung Tawar Bagi Anak Bayi. Tepung tawar ada beberapa jenis tepung tawar tersebut tidak mempunyai perbedaan baik yang
menyangkut peralatan maupun bahan-bahan yang dipergunakan. Seperti Tepung Tawar
Badan komposi terdiri dari, air tepung beras, beras kuning, berteh daun
juang-juang daun ketabar, daun juaran dan pisau dapur dll.
ü Tradisi
tepung tawar badan diperuntukan bagi anak kecil yang melaksanakan gunting
rambut, melaksanakan pernikahan, dan yang akan dihitan bagi laki-laki dan
peremtuan, dilakukan pada anak laki-laki yang akan melakukan sunatan baik
sebelum maupun ketika akan melakukan selamatan, dilakukan pada orang yang
selamat dari musibah, pada anak perempuan yang baru pertama kali
menstruasi. Objek yang akan diberikan
menurut tata cara yang berlaku, serta dilampas dengan memakai daun juang-juang
maupun daun ribu-ribu yang telah di celupkan pada seperangkat peralatan tepung
tawar. Adapun bagian-bagian yang dikenakan secara berurutan pada kening, bahu
kanan, bahu kiri, tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, serta kaki kiri
sementara paduan berteh dihamburkan pada kiri dan kanan tersebut. Kemudian
pisau dapur itu di gigit dan diletakan ke kening sebentar.
ü Upacara
ritual tepung tawar peralatan sama seperti tepung tawar yang lainnya, hanya
tidak menggunakan pisau dapur. Biasanya yang ditepung tawar ini adalah kendara
yang baru maupun kendaran yang telah mendapat musibah seperti setelah
kecelakaan atau kendaraan hilang ditemukan kembali. Jika ini tidak dilakukan
dengan tepung tawar sebagian kepercayaan masyarakat akan mempengaruhi jiwa,
kendaraan bisa menabrak atau ditabrak dan bahkan bisa hilang dicuri yang biasa
diungkapkan dengan kata-kata “Sueh”. Lafaz doa yang disebutkan seperti doa
selamat dan doa tolak bala.
ü Upacara
tepung tawar mayit dengan tepung tawar yang lain tidak berbeda dengan tepung
tawar badan. Tujuan dari upacara tepung tawar mayit yang dikenal dengan Pesilli
agar ahli keluarga yang ditinggalkan tidak meninggal dalam waktu yang tidak
berjauhan dari orang yang meninggal tadi. Dapat terhindar dari musibah dengan
memohon agar dijauhkan dari segala musibah yang datang dengan mohon
keselamatan, tidak hanya manusia dan juga peralatan yang telah dipakai dengan
wujud terimakasih telah dipergunakan sebagai peralatan mandi. Ada pun tepung
tawar ini dikenakan kain kafan dari orang yang meninggal tersebut, papan
pemandian mayat dan pada keluarga-keluarga yang ditinggalkan mayat.
ü Upacara
tepung tawar rumah dengan tepung tawar yang lain juga tidak berbeda dengan
tepun tawar badan hanya saja caranya yang berbeda, tepung tawar rumah mempunyai
tahapan-tahapan, tahapan yang pertama ketika mau mendirikan tiang rumah,
bahan-bahan yang dipakai seperti bahan tepung tawan badan ditambah hanya saja
tidak menggunakan pisau. Hal ini bertujuan agar tiang yang didirikan tidak
goyah atau tetap berdiri tegak, terkadang pada pendirian tiang rumah ada yang
menggunakan anak ayam dan bambu yang dianyam pada bagian atasnya. Tiang itu
diletakan didekat rumah yang mau didirikan tiang, dan anak ayam itu dimasukan kedalam
lubang tanah lalu ditancapkan dengan tiang rumah tersebut, dengan tujuan agar
tidak ada roh jahat menggagu rumah tesebut saat rumah itu telah dibangun.
ü Upacara
tepung tawar pada ikan peliharaan khususnya ikan arwana, tepung tawar ini
bahannya juga tidak jauh berbeda dengan tepung tawar badan hanya saja tidak
menggunakan pisau dapur, tepung tawar itu biasanya dikenakan pada ikan yang
baru dibeli atau akan dimasukan kedalam kolam ikan. Hal ini dilakukan agar ikan
arwana itu bisa member hoki kepada orang yang memeliharanya agar dia cepat
bertelur atau cepat laku. Ikan arwana juga dipercaya adanya roh gaib.
ü Upacara
Tepung Tawar bagi anak bayi juga dilakukan dengan upacara ritual dengan segala
persiapan yang disediakan bagi ahli keluarga yang mempunyai hajatan. Peralatan
yang perlu dipersiapkan dan dengan lengkap harus sudah ada jika acara dimulai.
Adapun perlengkapan alat-alat tersebut antara lain; Beras yang ditumbuk
dicampur dengan daun pandan dan kunyit dibuat tepung.
Besi, kayu arus, bekas kayu baker
diikat dengan tali disebut mereka pengkeras. Benang diikat yang diputarkan
diatas kepala menurut mereka mudah-mudahan keluarga itu dapat diikat hatinya
menjadi suatu ikatan yang kuat dan kokoh tak ubahnya seperti benang itu. Beras
dimasukan ke dalam gantang, sirih, pinang, tembakau, gambir, kapur, uang logam
secukupnya disebut pengkeras. Beras yang dicelup dengan kunyit disebut beras
kuning atau beras kunyit. tepung tawar gunting rambut bayi. Menurut adat dan
tradisi Melayu Kabupaten Kapuas Hulu, seorang bayi yang baru lahir mempunyai
pantangan rambutnya digunting sebelum melalui acara ini, namun dalam
pelaksanaan dibedakan atas dua macam, yakni ada yang dilakukan tanpa biaya,
pada waktu selamatan kelahirannya digunting dalam ayunan dikarenakan kurang
adanya kemampuan ekonominya, tetapi jika orang tuanya mempunyai kemampuan
ekonomi pada lazimnya dilakukan dengan cara tepung tawar (serakalan), dengan 12
lagu yang berbeda setiap bait.
ii.
Tumbang Apam
Merupakan sebuah acara yang
terdapat di kabupaten Kabupaten Kapuas Hulu,
Tumbang Apam adalah sebuah acara yang dilaksanakan ketika hajat
seseorang tersampaikan dan ia mewujudkan rasa syukur melalui Tumbang Apam
tersebut. Acara ini dilakukan dengan diawali, apam yang dikukus, serabi dan
apam yang dibakar ditusuk ke pelepah kelapa yang sudah dibuang daunnya dan
hanya tersisa tulang daunnya yang sesuai dengan dengan tinggi orang yang
melakukan hajat tersebut.
Apam adalah makanan yang
terbuat dari tepung beras atau bisa juga terbuat dari terigu. Acara tumbang ini
dilakukan apabila, anak kecil duduk atau berdiri menumbangkan pelepah kelapa
yang sudah ditusukan makanan tersebut. Biasanya orang berhajat melakukan
tumbang apam, ibu hamil yang beharap agar melahirkan dengan selamat, dan
sesorang yang sembuh dari suatu penyakit.
iii.
Buang-Buang
Buang-buang atau biasa dikenal dengan pemberian sesajen kepada roh
leluhur merupakan sebuah tradisi yang harus dilakukan oleh masyarakat ketika
akan melahirkan atau akan mengadakan acara, hal ini dilakukan supaya roh-roh
nenek moyang tidak mengganggu ketenangan orang-orang yang akan berbahagia.
Bahan-bahan sesajen ini berupa nasi yang bentuk dan diberi warna: yang biasanya
berwarna merah, kuning hitam dan putih. Selain nasi ada juga daun sirih, buah
pinang, buah pisang, dan rokok daun nipah. Buang-buang ini biasanya dihantarkan
ke sungai dan ada juga yang menghantarkan nya ke rimba.
iv.
Upacara Adat Kematian
Upacara kematian atau disebut dengan tahlilan yaitu uacara yang
dilakukan ketika didalam keluarga seseorang habis meninggal dunia. Upacara ini
dilakukan dari pertama sesorang meninggal sampai hari ke tujuh orang itu meninggal. Dengan makanan-makanan
yang berbeda pada setiap harinya. Salah satunya adalah makan Serabi,
orang-orang diberi makan serabi dengan tujuan agar orang yang meninggal tersebut
mendapat payung diakhirat, dan hari ke tiga dank e tujuh makanannya adalah
nasi.
e.
Bahasa Melayu Kapuas Hulu
Bahasa
utama di Kapuas Hulu adalah bahasa Melayu. Bahasa ini menjadi linguafranca di
kota pusat-pusat administrasi pemerintah dan perdagangan. Bahasa Melayu juga
digunakan ruang-ruang semi formal, sedangkan di ruang formal digunakan bahasa
Indonesia. Bahasa Melayu Ulu Kapuas
dituturkan oleh penutur masyarakat Melayu sebagai bahasa pertama, dan bahasa
Melayu juga dituturkan oleh penutur bukan Melayu sebagai bahasa kedua. Sejauh
yang diketahui hari ini, varian Melayu di Kapuas Hulu ada empat. Ke empat
varian itu adalah:
·
Varian
Embau
Varian
Embau adalah dituturkan di sepanjang Sungai Embau, Sungai Bunut, dan beberapa
kampung di tebing sungai Kapuas bagian tengah. Bahkan varian ini juga
dituturkan di Badau, sebuah kota kecil di perbatasan Kapuas Hulu - Lubuk Antu,
Sarawak (Ibrahim, 2007). Ciri penting varian Embau adalah wujudnya bunyi [o]
pada suku pra-akhir yang dalam varian bahasa Indonesia Standar wujud bunyi. Contohnya:
Berjalan menjadi bejaloon.
Varian
Embau adalah salah satu varian yang cukup penting dalam dialek Ulu Kapuas.
Penting karena jumlah penutur dijangka paling banyak. Jumlah penduduk Embau
lebih dari 20 ribu. Sedangkan jumlah penduduk di Batang Bunut ditaksir sekitar
25 ribu. Jadi total penutur varian ini tidak kurang 50 ribu.
Tetapi
kedudukan varian ini tidaklah sejajar dengan varian Putussibau – Semitau.
·
Varian
Selimbau
Varian
Selimbau dituturkan di wilayah Selimbau dan sekitarnya, yang berbatasan dengan
varian Embau. Orang menyebut varian ini sebagai “nyelimaw”, maksud bertutur
gaya Selimbau. Data yang dipetik di Piasak, kecamatan Selimbau.
Ciri
penting varian ini adalah wujudnya bunyi [E] pada posisi pra-akhir yang dalam
varian lain wujud sebagai [E]. Contoh: Kemana menjadi kemena.
Varian
ini memang memiliki penutur yang terbatas. Jumlah hanya beberapa ribu orang
saja. Namun, meski demikian bahasa ini memiliki kedudukan sosial yang kuat.
Setidaknya orang-orang di Selimbau, Piasak dan Nibung masih memperlihat
kesetiaan terhadap varian ini.
·
Varian
Putussibau – Semitau
Varian
Putussibau – Semitau dituturkan di sekitar Semitau, Nanga Suhaid, Nanga Silat
dan sekitarnya, hingga batas wilayah varian Selimbau. Selain itu, varian ini juga
dituturkan di bandar Bunut, hingga Putussibau –pusat pentadbiran Kapuas Hulu.
Boleh dikatakan, varian ini adalah varian utama di kawasan Kapuas Hulu.
Varian
ini mengalami perkembangan yang cukup berarti; baik secara geografis maupun
secara sosial. Dilihat dari sisi geografis, varian ini bukan hanya dituturkan
di kawasan. Contohnya: Kemana menjadi ke’mena.
·
Varian
Embau Hulu
Varian
Embau Hulu dituturkan dibeberapa kampung di sekitar Nanga Tepuai.
Perbedaan varian ini antara lain dapat dikesani dari variasi bunyi pada suku pra-akhir. Data yang dipetik di Nanga Taman, sebuah kampung di bagian hulu Sungai Embau, Kapuas Hulu. Dilihat dari dimensi sosial, varian Putussibau – Semitau memiliki keistimewaan dan citra positif. Maklum dituturkan di pusat pemerintahan dan karena itu kebanyakan penuturnya adalah orang yang terpelajar, dan para pegawai.
Orang-orang ini membawa varian ini ke daerah ke wilayah pertuturan varian lain. Status sosial penutur mempengaruhi citra orang terhadap bahasa ini.
Perbedaan varian ini antara lain dapat dikesani dari variasi bunyi pada suku pra-akhir. Data yang dipetik di Nanga Taman, sebuah kampung di bagian hulu Sungai Embau, Kapuas Hulu. Dilihat dari dimensi sosial, varian Putussibau – Semitau memiliki keistimewaan dan citra positif. Maklum dituturkan di pusat pemerintahan dan karena itu kebanyakan penuturnya adalah orang yang terpelajar, dan para pegawai.
Orang-orang ini membawa varian ini ke daerah ke wilayah pertuturan varian lain. Status sosial penutur mempengaruhi citra orang terhadap bahasa ini.
Ciri
yang cukup penting yang dalam Varian Embau Hulu adalah wujudnya bunyi pada
posisi akhir, yang dalam varian Embau dan varian lain wujud sebagai [a].
f.
Kesenian
Keunikan
seni budaya masyarakat Melayu yang tumbuh dan berkembang secara tradisional
yang mempunyai karakteristik tersendiri yang masih bersifat alami, namun di
sisi lain adanya beberapa nilai tertentu yang mengalami kondisi krisis akibat
pengaruh arus globalisasi dan budaya asing tetapi tidak mengurangi dari norma-norma
adat istiadat budaya etnis tersebut.
·
Tari
Belangkah
Tari
Belangkah atau ada juga yang menyebut tari japin, merupakan tari pergerakan
kaki cepat mengikuti rentak pukulan gendang. Tarian ini bersifat mendidik dan
menghibur, yang mana digunakan sebagai media pendidikan melalui syair pantun
yang didendangkan sesuai dengan situasi pementasan. Musik pengirignya terdiri
atas tiga alat utama yaitu dua alat music tabuh gendang, gambus, dan juga satu
buah gong. Tari belangkah ini sangat beragam bentuknya, ada yang disebut tari
belangkah bujur, dan juga ada tari belangkah tali. Tari belangkah ini dilakukan
berkelompok oleh laki-laki dan perempuan. Tarian ini biasa dipentaskan saat
acara pernikahan, menyambut tamu tertentu baik itu pejabat
negara maupun daerah.
g.
Pernikahan
Proses
perkawinan yang paling awal dari masyarakat kami adalah proses siapa jodoh yang
cocok untuk dirinya. Si lelaki itu merasa cocok maka si lelaki itu ngomong
kepada kedua orang tuanya, lalu datanglah orang tua laki-laki itu kepada orang
tua perempuan itu yang langkah awal ini disebut merisik. Jika mereka merasa
sudah cocok maka langkah selanjutnya adalah Tanda Upa atau Tunagan. Setelah
kedua calon merasa sama-sama cocok maka tahap selanjutnya adalah menikah. Sebelum sampai pada hari puncak yaitu hari
pelaksanaan perkawinan, terlebih dahulu dilakukan beberapa kegiatan sebagai
persiapan yaitu:
·
Besurung
Jika
Sebelum menikah dilakukan tahap yang disebut besurung, dimana pada tahap itu si
lelaki mengantarkan barang antaranya terdiri dari: perlengkapan untuk tidur
seperti: tilam, bantal pipih dua buah, bantal guling satu buah, kelambu, dan
selimut, pakaian seperti: pakaian kebaya untuk si perempuan, ibu perempuan, dan
pakaian koko untuk ayah perempuan, seperangkat alat sholat, alat-alat make up,
sandal, payung, dan pakaian dalam si perempuan dan seperangkat bahan-bahan
untuk makan sirih. Setelah itu si perempuan membalasnya dengan kue-kue basah.
·
Menggantung
( hari menggantung )
Hari menggantung adalah hari
dimulainya secara nyata persiapan upacara perhelatan pernikahan akan
dilangsungkan. Ini dilakukan sekira 3 hari menjelang hari pernikahan. Kegiatan
ini diawali dengan memasang pentas pelaminan. Setelah pentas pelaminan selesai
dipasang maka pentas tersebut ditepung tawari, dan setelah itu barulah
dilanjutkan dengan memasang hiasan berupa tabir belang dengan cara digantung,
yang dilakukan oleh juru pelaminan.
·
Akad
Nikah
Upacara Akad nikah adalah upacara keagamaan yang sacral yang
menentukan syah tidaknya suatu perkawinan dimana seorang ayah akan melepaskan
tanggung jawab terhadap anak perempuannya kepada seorang perjaka yang akan
menjadi suami dihadapan Kadhi Nikah dan saksi-saksi sesuai hukum syarak dan
qur’an. Kata-kata penyerahan dari si ayah disebut Ijab, sedangkan kata jawaban
dari siperjaka pengantin lelaki disebut Kabul. Dan upacara ini dilakukan di
rumah pengantin wanita. Setelah Ijab Kabul dilanjutkan dengan pengantin lelaki
menyembah orng tua pengantin wanita dan orang tua yang patut menurut adat dan
lembaganya. Pada acara penyembahan ini terkandung makna untuh memohon keampunan
dari kedua orang tua dan keikhlasan menerima kehadiran anak menantunya kedalam
keluarga mereka. Seterusnya setelah akad nikah maka si pengantin mestilah tahu
akan beban yang menanti, tahu akan apa yang menunggu tahu hidup memegang wakil,
tahu alur dengan patutnya, tahu akan salah dan silih, tahu akan fungsi dan
tugas suami istri, tahu pula tempat tegaknya istri.
·
Hari
Berlangsung (Hari Bersanding)
Hari langsung (bersanding) adalah hari yang dinanti-nantikan.
Karena pada hari ini pengantin diarak dari rumahnya menuju kerumah pengantin
wanita untuk diduduk sandingkan disana dengan melalui beberapa urutan kegiatan.
Diawali dengan menjumput pengantin lelaki oleh beberapa orang tua sebagai
perwakilan pengantin wanita. Kedatangan para penjemput ini sekaligus membawa
hidangan (makanan) untuk pengantin lelaki lengkap dengan lauk pauk dan. Rombongan
penjemput ini disambut ditengah rumah dan dihidangkan minuman dan makanan.
·
Penetesan air mawar
Penetesan air mawar adalah dimana
acara para tamu undangan bersalaman dengan kedua mempelai dan orang tua kedua
mempelai, biasanya para tamu undangan bersalaman sambil member kado atau uang
kepada kedua mempelai yang sedang berbahagia dan juga penetesan air mawar.
·
Mandi Selamat
Setelah
satu hari bersanding kedua mempelai dimandikan dengan air yang dibacakan doa
selamat dan doa tolak bala yang mana air tersebut juga telah dimasukan dengan
bunga-bunga. Hal ini bertujuan agar kedua pengantian selalu hidup jauh dari
malapetaka.
h.
Panggilan-panggilan
Umum Dalam Kekerabatan Orang Melayu Kapuas Hulu
Kekerabatan
atau sanak saudara adalah unut-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga
yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Sistem kekerabatan pada
masyarakat melayu di kelimatan barat pada umumnya menganut sistem bilinal atau
bilateral yaitu mengambil garis keturunan dari ayah dan ibu. Anak dapat
perhatian dan pelaku yang sama dari orang tua maupun dari sanak keluargadari
ayah dan ibu. Tetapi dalam pembagaian warisan, anak laki-laki memperoleh bagian
yang lebih banyak dari anak permpuan. Sistem kelurga atau kekerabatan adalah
hukum adat yang bentuknya tidak tertulis dan di dalamnya terdapat pengaturan
mengenai hubungan hukum atau kekerabatan yang terdapat diantara individu dengan
individu yang lainya, apakah hubungan ayah dan anak, ibu dan anak, kakek dan
cucu, dan sebagainya.
Dari
segi kekerabatan masyarakat melayu dibagi kepada dua kelompok :
a) Menerapkan
sistem kekerabatan nasab ayah (patrilineal).
b) Menerapkan
sistem kekerabatan nasab ibu (matrilineal).
Dalam
proses interaksi orang melayu, biasa menggunakan beberapa panggilan umum yang
sering mereka gunakan, diantaranya:
ü Wak:
orang yang telah terbiasa dipanggil oleh ponakan yang berarti paman atau Om /
tante/ bibi, sehingga menjadi wak atan, wak amad, wak siti, wak lela, dan
lainya.
ü Umay
: panggilan bagi perempuan melayu yang telah berumur misalnya menjadi kebiasaan
mak ucu, mak uteh, mak ude, mak njang, dan sebagainya.
ü Wa/Mbok
: Panggilan untuk anak yang paling tua
ü Cik
: Panggilan untuk anak yang tua kedua
ü Long
: panggilan terhadap anak ketiga tua
ü Ngah
: panggilan terhadap anak tengah , baik yang kedua ataupun yang lain tetapi
bukan panggilan anak yang paling kecil.
ü Uda
: menjadi kebiasaan panggilan terhadap anak yang paling muda ataupun nomor
pertama muda.
ü Yak:
Panggilan untuk anak yang paling muda nomor dua.
ü Icu
: menjadi kebiasaan panggilan anak yang paling kecil atau bungsu.
ü Utih
: orang yang berkulit putih.
ü Itam
: orang yang berkulit hitam.
ü Njang
atau anjang : Panggilan untuk orang yang tinggi
ü Unggal:
Panggilan untuk anak tunggal
ü Ndut:
Panggilang untuk orang gendut
Dari
berbagai banyak panggilan yang beragam karena menurut orang melayu adalah :
a.
Sebagai penghormatan
b. Jujur
dari panggilan mereka
c. Mudah
untuk dihafal
d. Tanda
kasih sayang keluarga
e.
Sebagai lambing tradisi
f.
Pembeda antara sanak saudara
BAB 1V
PENUTUP
Kesimpulan
· Masyarakat
Melayu (Kapuas Hulu) sangat mengutamakan perilaku yang sopan, ramah, serta
selalu menggunakan tutur bahasa yang halus. Masyarakat Kapuas Hulu menjunjung
tinggi asas kekeluargaan, terlihat dari segi bermasyarakat yang damai, suka
bergotong royong.
Melayu
(Kapuas Hulu) banyak bermukim dipesisiran sungai Kapuas, sehingga masyarakatnya
banyak yang bermata pencaharian sebagai
nelayan. Melayu di Kapuas Hulu mirip dengan suku dayak, hanya saja orang melayu tidak makan, makanan
yang diharamkan menurut ajaran islam.
· Bentuk-bentuk
budaya Kapuas hulu seperti : Tepung Tawar, Tumbang Apam, Buang-buang, dan
upacara tahlilan (upacara kematian)
· Bahasa
utama di Kapuas Hulu adalah bahasa Melayu. Bahasa ini menjadi linguafranca di
kota pusat-pusat administrasi pemerintah dan perdagangan. Bahasa Melayu juga
digunakan ruang-ruang semi formal, sedangkan di ruang formal digunakan bahasa
Indonesia.
· Keunikan
seni budaya masyarakat Melayu yang tumbuh dan berkembang secara tradisional
yang mempunyai karakteristik tersendiri yang masih bersifat alami, namun di
sisi lain adanya beberapa nilai tertentu yang mengalami kondisi krisis akibat
pengaruh arus globalisasi dan budaya asing tetapi tidak mengurangi dari
norma-norma adat istiadat budaya kedua etnis tersebut contohnya seperti tari
belangkah.
·
Proses
perkawinan yang paling awal dari masyarakat kami adalah proses siapa jodoh yang
cocok untuk dirinya, mulai dari merisik, tunangan, besurung, begantung, ijab
Kabul (akad nikah), hari berlangsung, penetesan air mawar dan mandi selamat.
· Kekerabatan
atau sanak saudara adalah unut-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga
yang memmiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan.
· Sistem
kekerabatan pada masyarakat melayu di kelimatan barat pada umumnya menganut
sistem bilinal atau bilateral yaitu mengambil garis keturunan dari ayah dan
ibu. Dari segi kekerabatan masyarakat
melayu dibagi kepada dua kelompok : a) Menerapkan sistem kekerabatan nasab ayah
(patrilineal). b) Menerapkan sistem kekerabatan nasab ibu (matrilineal).
Panggilan- panggilan umum dalam kekerabatan orang melayu Pak Long dan Mak Long,
Pak Anjang dan Mak Anjang, Pak Ngah dan Mak Ngah Pak Itam dan Mak Itam, Pak Utih
dan Mak Utih, Pak Cik dan Mak Cik, Pak Uda dan Mak Uda, Pak Usu dan Mak Usu,
Pak Unggal dan Mak Unggal. Dari berbagai banyak panggilan yang beragam karena
menurut orang melayu adalah : Sebagai penghormatan, jujur dari panggilan
mereka, mudah untuk dihafal, tanda kasih sayang keluarga, sebagai lambing
tradisi, pembeda antara sanak saudara.
Saran
Demi
kesempurnaan makalah ini diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
dan memberikan manfaat kepada penulis dengan sebagaimana mestinya. Atas kritik
dan saran yang diberikan, penulis ucapkan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.lintasberita.web.id/pengertian-budaya-menurut-para-ahli/
(diakses pada 29 November 2015)
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Melayu
(diakses pada 29 November 2015)
https://ms.wikipedia.org/wiki/Orang_Melayu_Indonesia
(diakses pada 29 November 2015)
http://www.kapuashulukab.go.id/statis-13-kebudayaan.html
(diakses pada 29 November 2015)
(diakses pada 29 November 2015)
BalasHapushttps://drive.google.com/file/d/0B6ut4qmVOTGWMkJvbFpZejBQZWM/view?usp=drivesdk
Salam
Kepada:
Redaksi dan para akademik
Per: Beberapa Hadis Sahih Bukhari dan Muslim yang Disembunyikan
Bagi tujuan kajian dan renungan. Diambil dari: almawaddah. info
Selamat hari raya, maaf zahir dan batin.
Daripada Pencinta Islam rahmatan lil Alamin wa afwan.